Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang baku adalah “mempunyai” bukan “memunyai”. Mengapa? Karena asal katanya adalah empu, bukan punya, meskipun entri ini tetap saja diletakkan sebagai sublema punya.
Kaidah KPST sebenarnya menyatakan bahwa huruf awal pada kata dasar yang berawalan “p” dan diikuti vokal akan luluh saat diberi imbuhan me-. Kalau mengikuti kaidah ini, kata dasar punya seharusnya menjadi memunyai saat diberi awalan me-.
Kaidah KPST adalah kaidah peluluhan (atau penghilangan) fonem kata dasar yang berawalan k, p, s, atau t saat diberi awalan me- atau pe-. Kaidah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Huruf pertama LULUH jika huruf kedua adalah vokal. Contoh:
- kali > mengalikan; pukul > memukul; salin > menyalin; tari > menari.
- kali > pengali; pukul > pemukulan; salin > penyalinan; tari > penari.
- Huruf pertama TIDAK LULUH jika huruf kedua adalah konsonan. Pengecualian kaidah (dilambangkan dengan tanda * pada contoh di bawah) ini adalah kombinasi awalan pe- dengan kata dasar perawalan p yang diikuti konsonan. Pada kombinasi ini, huruf p luluh untuk melancarkan pengucapan dan mencegah dua huruf p yang berdekatan. Contoh:
- kristal > mengkristal; proses > memproses; skor > menskor; transmigrasi > mentransmigrasikan
- kristal > pengkristalan; proses > pemroses*; skor > penskoran; transmigrasi > pentransmigrasian
Ada 3 bentuk yang merupakan pengecualian untuk kaidah ini, yaitu:
- punya > mempunyai, bukan memunyai. Penyebab: kebiasaan.
- kaji > mengkaji, bukan mengaji. Penyebab: kata mengaji ada, tetapi memiliki makna khusus.
- syair > penyair, bukan pensyair. Penyebab: kebiasaan.
Seandainya memang kata dasarnya adalah empu, bentuk turunan berawalan me- dari kata ini seharusnya adalah mengempunyai karena alomorf yang dipakai untuk kata dasar berawalan “e” adalah meng-. Ingat bahwa kata embik menjadi mengembik?
Sekadar catatan, KBBI sudah memasukkan entri mengempu dengan makna (1) menghormati; memuliakan; (2) mengasuh; membimbing.
Kasus ini kita anggap saja sebagai salah satu pengecualian dalam bahasa Indonesia. Kalau malas berpolemik, pakai saja kata sinonimnya, yaitu memiliki.
Sumber:beritagar.id