Jenghis Khan, pendiri Kekaisaran Mongolia amat tersohor. Nama ini tentu tidak asing lagi di kalangan banyak orang terutamanya di Asia Timur, Asia Tengah, hingga jazirah Arab. Daerah-daerah tersebut menjadi saksi bagaimana ambisi pria kelahiran Mongolia ini menaklukkan berbagai etnis suku bangsa di bawah Kekaisaran Mongolia dengan jalan genosida besar dan perusakan.
Sebelum bernama Jenghis Khan, dirinya terlahir dengan nama Temüjin. Catatan sejarah Paul Ratchnevsky berjudul Genghis Khan: His Life and Legacy menyebut, Temüjin masih berkorelasi dengan Khabul Khan, seorang bergelar Khan pertama pemimpin suku Khamag Mongol.
Kekaisaran Mongolia didirikan oleh Jenghis Khan pada tahun 1206, sekaligus menghimpun suku-suku nomaden di Mongolia yang sering berselisih. Wilayah kekuasaannya semula 4 juta kilometer persegi mengembang luas menjadi 13,5 juta kilometer persegi saat kematiannya pada 1227.
Sampai kematiannya dalam pertempuran menaklukkan Xia Barat pada 1227, ia hanya diketahui dimakamkan di sebuah makam tak bertanda di suatu tempat di Mongolia. Tak ada keterangan lebih rinci. Ia tidak ingin keberadaannya diketahui.
Menurut legenda, agar lokasi makam itu tetap rahasia, setiap peziarah yang pernah berkunjung dibunuh. Juga para tentara dan pekerja yang terlibat mempersiapkan makam dan menguburkannya kala itu.
Catatan-catatan sejarah selama ini telah banyak membukukan riwayatnya sejak lahir hingga berjaya menaklukkan bangsa-bangsa lain. Namun, makamnya belum juga ditemukan. Kisahnya hanya berakhir pada kematian. Makam Jenghis Khan masih menjadi misteri dalam dunia arkeologi.
Pencarian bukan tidak pernah dilakukan. Bersamaan dengan pencarian situs-situs arkeologi peninggalan Kekaisaran Mongolia, petunjuk-petunjuk yang merujuk ke lokasi pemakaman terus dikumpulkan.
Misalnya pencarian yang dilakukan pada 2004 silam oleh tim peneliti dari Jepang dan Mongolia. Seperti dilansir NBCNews, pencarian ini membuahkan hasil berupa penemuan reruntuhan istana dari Jenghis Khan di kompleks padang rumput di 150 mil sebelah timur ibukota Mongolia, Ulan Bator.
Pencarian besar-besaran kemudian digalakkan lagi pada 2010 lalu. Dengan tajuk “The Valley of the Project Khan,” pencarian kali ini terutama bertujuan untuk menemukan lokasi makam dari Jenghis Khan. Namun kali ini pencarian memanfaatkan cara-cara berbasis teknologi.
Seperti dilansir National Geographic yang merupakan partner dalam misi eksplorasi ini, tim yang dikepalai oleh Albert Yu-Min Lin dari University of California memanfaatkan teknologi paling canggih dari penginderaan jauh untuk mencari kuburan Jenghis Khan. Alat-alat mutakhir dikerahkan, misalnya citra satelit, radar penembus tanah, dan sensor jarak jauh.
Lingkungan, budaya atau hambatan politik mungkin telah menghalangi kami menjelajahi tempat-tempat tertentu. Teknologi saat ini membantu kita menavigasi melewati rintangan-rintangan tua itu, ungkap Lin menjelaskan alasannya melibatkan teknologi dan serta merta turut menghormati kepercayaan tradisional masyarakat adat setempat.
Pada peluncuran itu, tim Lin membangun lanskap lebih dari 84.000 ubin peta yang membentang lebih dari 6.000 kilometer persegi yang akan difokuskan untuk eksplorasi virtual tanpa harus membuka satu per satu petak tanah sebagaimana pencarian konvensional yang dilakukan peneliti lain terhadap makam Jenghis Khan.
Sistem thermal-imaging misalnya, dapat menunjukkan apa yang ada di bawah dengan mendeteksi sinyal panas dan pola yang dipancarkan dari bumi. Magnetometri adalah teknik survei geofisika menggunakan medan magnet bumi untuk menentukan petunjuk di bawah tanah dan kegiatan manusia masa lampau. Ada pula radar penembus tanah yang dapat memantulkan kembali gambar guna mengungkapkan benda bawah permukaan. Juga remote wireless mini untuk mengumpulkan data dari tempat yang tidak dapat dijangkau manusia.
Karena banyaknya objek yang terus perlu dipantau dan dicari, proyek yang seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami ini berjalan bertahun-tahun.
Misi pencarian ini bagaimanapun terus berlanjut berkat studi crowdsourcing atau urun daya yang menambah potensi kekuatan eksplorasi. Albert Lin yang juga bagian dari National Geographic Society's Emerging Explorer Programme kemudian mendirikan perusahaan dengan teknologi mereka bernama TomNod. Seperti dilansir TechinAsia, TomNod kemudian diakusisi oleh DigitalGlobal pada 2013 dan bersama-sama melayani misi-misi eksplorasi lewat citra satelit.
DigitalGlobe yang bergabung itu tidak lain adalah perusahaan penyedia layanan citra satelit yang terkenal karena upaya pencarian lenyapnya pesawat Malaysia Airlines 370. Kini, hal serupa dilakukan dalam pencarian makam. Jutaan gambar yang ditangkap citra satelit dianalisis oleh 28.000 relawan. Ketika kelompok besar dari relawan tersebut setuju pada titik yang menarik, tim baru akan turun untuk menyelidiki daerah tersebut.
Teknologi citra satelit sendiri saat ini tengah populer untuk membantu pekerjaan-pekerjaan manusia yang melibatkan cakupan luas, seperti menilai kerusakan akibat gempa bumi dan banjir memantau penerbangan liar dan kerusakan hutan. Bahkan gambar dari DigitalGlobe kini juga digunakan oleh layanan Uber untuk keperluan navigasi dan menaik turunkan penumpang.
Dalam wawancara Albert Yu-Min Lin dengan Straits Times, masalah terbesar yang dihadapi dalam penelitian ini adalah faktor budaya tradisional. Orang-orang masih menghormati dan memiliki keyakinan yang kuat bahwa tidak ada yang terganggu secara fisik, ungkapnya. Jenghis Khan pernah menyatakan bahwa gunung dan sekitarnya dilarang bagi siapapun selain keluarga kerajaan.
Orang-orang Mongolia melihat ekspedisi ini dengan keberatan. Orang Mongolia membenci setiap upaya untuk menyentuh kuburan, atau bahkan berkeliaran di sekitar kuburan,” demikian ditulis Mongolia Today. Pemerintah Mongolia juga berharap situs ini tidak pernah ditemukan, sesuai dengan keinginan Jenghis Khan.
