IDUL Fitri menjadi momen yang tepat untuk bermaaf-maafan. Sebagian benar-benar dengan tulus melupakan dan mengampuni mereka yang bersalah kepadanya, tetapi sebagian lainnya sebatas memaafkan lewat lisan saja. Ada hal-hal traumatis yang membikin orang-orang tak mudah bergerak dari situasi menyakitkan pada masa silam. Jangankan memaafkan, mengingat konflik-konflik dengan orang tertentu saja masih membuat dongkol.
Mereka pun berpikir waktu akan berangsur-angsur memulihkan relasinya dengan si pembuat kesalahan. Mereka menunda menyapa, berkomunikasi, apalagi membahas ganjalan hati akibat perlakuan buruk orang yang melukainya. Sampai akhirnya, hal tak terduga terjadi: si pembuat kesalahan meninggal. Orang-orang ini pun terpaksa menyimpan masalah tak terselesaikan di kemudian hari.
Dalam dunia psikologi, kondisi penuh memori buruk yang membuat orang sulit berdamai dengan orang yang telah meninggal dikatakan sebagai complicated grief. Dilansir Mayo Clinic, ada beberapa gejala yang kerap ditemukan pada orang-orang yang mengalami hal ini. Pertama, mereka merasakan kesedihan yang intens setiap kali mengenang orang yang telah meninggal. Fokus mereka pun lebih sering tertuju kepada sosok yang tiada tersebut dibanding hal-hal lain dalam hidupnya. Sekalipun memiliki masalah di masa silam dengan orang yang meninggal, mereka dapat merasakan kerinduan begitu besar yang membuatnya merana. Tidak jarang pula mereka menyangkal kenyataan bahwa orang yang bermasalah dengannya sudah meninggal.
Lebih lanjut, orang-orang yang mengalami complicated grief bisa berpikir bahwa hidupnya kehilangan tujuan atau makna. Perasaan mudah marah, mati rasa, tak menikmati hidup, dan lenyapnya kepercayaan terhadap orang lain juga dapat muncul saat memori-memori buruk terkait orang meninggal tersebut mendominasi pikiran mereka.
Complicated grief bisa berdampak pada fisik, mental, dan kehidupan sosial orang-orang. Mereka mungkin mengalami depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma, bahkan pikiran bunuh diri. Situasi mental yang buruk ini lantas mendorong penurunan kondisi fisik seperti gangguan tidur, risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, sampai kanker. Sebagai pelampiasan perasaan buruk yang dialami, mereka dapat memilih mengonsumsi alkohol atau obat-obatan yang merusak tubuhnya. Mereka juga bisa kesulitan memulai relasi dengan orang-orang baru dan gagal berkonsentrasi dalam bekerja atau beraktivitas.