TERKINI
BAHASA

Meluruskan Pokemon Si ‘Aku Yahudi’

Adanya kesamaan bentuk suatu kata dalam suatu bahasa dengan bahasa lain, tetapi bermakna negatif, tentunya bukan hanya ada dalam bahasa di dunia. Bahasa kita juga punya.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 7 menit
SUDAH DIBACA 1.7K×

Di berbagai media lokal santer tersiar kabar bahwa Bunda Illiza (Wali Kota Banda Aceh) mengharamkan Pokemon Go. Alasannya karena maknanya ‘Aku Yahudi’. Ini diperoleh sang bunda melalui berbagai berita terkait arti kata Pokemon yang dibagikan kepada beliau melalui berbagai media daring.

Alasan tersebut saya ketahui setelah belakangan Bunda meminta maaf kepada masyarakat terkait pernyataannya yang mengharamkan Pokemon Go. “Mohon maaf jika ada yang tersinggung para pecinta Pokemon GO. Saya tidak bermaksud apapun, saya berkomentar demikian disebabkan banyaknya berita yang dishare kepada saya tentang arti dari Pokemon,” demikian bentuk permintaan sang Bunda.

Tak ada maksud membesarkan-besarkan masalah ini. Tak ada pula tujuan merisak sang Bunda, apalagi mempermasalahkan ejaan dan tata bahasa Indonesia sang Bunda yang menurut saya masih banyak kesalahannya di sana sini. Saya cukup apresiatif terhadap permintaan maaf beliau. Karena jarang kita temukan pemimpin yang dengan sukarela meminta maaf kalau salah.

Saya ingat betul pernah membaca tulisan tentang arti kata Pokemon ini 3 bulan lalu melalui salah satu media daring di Indonesia. Media ini mengutipnya dari dailymirror. Katanya, di Irak film kartun Pokemon dilarang tayang ketika masa pemerintahan Saddam Husein.

Lebih lanjut, media tersebut menjelaskan larangan tersebut terungkap lewat sebuah dokumen negara Irak yang disita pasukan Amerika pada 2004. Dalam dokumen itu dikatakan bahwa pencekalan dilakukan karena artinya yang negatif dalam bahasa Syriac (bahasa Suryani) yang dipakai negara itu.

Masih menurut dokumen itu, Pokemon dikatakan sangat mirip dengan istilah yang sama dalam bahasa itu yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah ‘Aku Yahudi’. Demikian juga dengan karakter Pikachu dan Charmander. Kedua kata ini berturut-turut dalam bahasa Suryani berarti ‘Jadilah Yahudi’ dan ‘Tuhan Itu Lemah’. Itulah mengapa Saddam “alergi’ dengan istilah-istilah dalam film kartun Pokemon ini sehingga (masih menurut dokumen itu) ia mencekalnya untuk mencegah masuknya pengaruh-pengaruh Yahudi ke anak-anak dan budaya bangsa itu.

Saya menilai di sinilah punca awal tersiarnya kabar bahwa Pokemon berarti “Aku Yahudi”. Imbasnya, sebagian masyarakat anti dengan istilah ini saking bencinya kepada Yahudi (mungkin).

Terlepas dari benar atau tidaknya ada dokumen yang seperti itu atau ada “udang di balik peyek” dalam pemberitaan itu oleh Amerika, saya mencoba mencari benang merahnya. Saya simpulkan kemudian bahwa ada sebagian orang yang salah paham memahami kabar itu. Entah karena hanya mendengar dari orang lain, membaca judulnya saja, atau salah menafsirkan setelah membacanya.

Kesalahan seperti itu lumrah terjadi sebab tak ada gading yang tak retak. Namun, sangat disayangkan karena dapat menimbulkan kegaduhan umat yang luar biasa akibat lahirnya “fatwa” yang menyesatkan tanpa crosscheck terlebih dahulu.

Kalaulah benar Saddam Husein melarang penayangan Pokemon di negaranya dengan alasan seperti yang dikutip media daring itu, kita perlu jeli memahami bahwa ia mencekalnya karena kata yang hampir sama bentuknya itu juga ada dalam bahasanya. Hanya saja, kebetulan bermakna negatif. Jadi, dalam kasus ini Saddam Husein membandingkan kata yang dihasilkan negara lain (Jepang sebagai negara pembuat Pokomen) dengan bahasa negaranya.

Usaha untuk mengartikan suatu kata antara satu bahasa dan bahasa lain sebab bentuknya sama, tetapi maknanya berbeda sesungguhnya dalam tinjauan bahasa lumrah terjadi dan tak perlu dipermasalahkan sejauh tidak menghasilkan kesalahpahaman, apalagi sampai taklid buta.

Faktanya, banyak kosakata bahasa di dunia yang bentuknya sama dengan kosakata bahasa lain, tetapi bermakna negatif, dan itu terjadi bukan karena disengaja.

Saya ingat persis produsen mobil paling besar di India, Tata Motors, mengganti nama mobil terbarunya ketika itu, yaitu Zica. Alasannya, nama tersebut serupa dengan nama suatu virus yang tengah mewabah di Amerika Serikat. Begitu pula dengan nama mobil Chevrolet Nova buatan General Motor yang terpaksa diganti ketika dijual di negara-negara berbahasa Spanyol karena bermakna “tak jalan”.

Begitu pula dengan Mitsubishi Pajero. Mobil ini juga tak laku di negara-negara berbahasa Spanyol sebab Pajero dalam bahasa Spanyol berarti ‘pemalas’ atau ‘Yang tidak diandalkan’. Yang lebih menggelikan lagi adalah Mercedes Benz Vito. Mobil ini dijamin tak akan laku dijual di Swedia sebab “Vito” bermakna ‘alat kelamin wanita’.

Jadi, karena makna negatif yang dikandung kata-kata tersebut, banyak mobil tidak laku di negara tujuan sang produsen mobil. Semua semata-semata karena makna negatif yang diembannya. Barangkali ada keyakinan tertentu oleh masyarakat pengguna bahasa tersebut jika mobil itu dibeli. Sebut saja misalnya Chevrolet Nova yang berarti ‘tak jalan’ atau Pajero ‘pemalas’. Masyarakat pengguna bahasa ini mungkin meyakini bahwa jika dibeli, mobil ini bakal tak jalan atau tak tangguh di medan. Namun, faktanya kita tak melihat demikian.

Lantas, mengapa mobil itu laku dijual di Indonesia, begitu pula di Aceh? Ya, tentu saja karena kata-kata tersebut tak ada dalam bahasa kita. Nah, setelah kita tahu nama-nama tersebut bermakna negatif dalam bahasa Spanyol, apakah kita kemudian enggan membelinya atau menjualnya kembali bagi yang sudah membeli? Tentu saja tidak bukan karena mobil-mobil itu memang terbukti tangguh di medan. Kalaupun rusak atau tak jalan, tentu bukan karena artinya yang negatif, tetapi semata-mata karena adanya kerusakan tertentu dalam mobil itu.

Adanya kesamaan bentuk suatu kata dalam suatu bahasa dengan bahasa lain, tetapi bermakna negatif, tentunya bukan hanya ada dalam bahasa di dunia. Bahasa kita juga punya.

Sebut saja misalnya antara bahasa Aceh dan bahasa Gayo. Bahasa Aceh punya kosakata utôh yang berarti ‘tukang bangunan’. Namun, bila dikaitkan dengan bahasa Gayo, kata yang hampir sama bentuk dan pelafalannya itu bermakna negatif dalam bahasa tersebut. Lantas, karena maknanya yang negatif dalam bahasa Gayo, apakah kemudian kata utôh terlarang dipakai dalam bahasa Aceh? Tentu tidak bukan. Buktinya sampai hari ini masih kita gunakan dan memang tidak perlu dilarang, konon lagi diharamkan.

Kasus seperti itu bukan hanya terjadi antarbahasa, melainkan juga dalam sebuah bahasa. Sebut saja kata ipôk (bahasa Aceh yang dipakai oleh sebagian masyarakat di wilayah barat-selatan). Dalam bahasa Aceh di daerah ini, ipôk bermakna ‘kantong’, tetapi akan ditertawakan oleh sebagian pengguna bahasa Aceh di wilayah timur sebab maknanya yang negatif dalam bahasa Aceh dialek daerah itu. Karena hal ini, pengguna bahasa Aceh wilayah barat-selatan tentu tak perlu bersusah payah mencari kata lain atau memaksakan diri menggunakan balum yang dianggap bermakna sama dengan ipôk dan tak terkesan negatif.

Demikian pula dengan pengguna bahasa Aceh wilayah timur. Mereka tentu tak perlu mengganti atau bertungkus lumus mencari kosakata lain untuk boh pik ‘gambas’ karena maknanya yang negatif dalam bahasa Aceh di wilayah barat-selatan.

Kasus yang sama juga terjadi dalam bahasa Indonesia. Kita tak perlu berkeluh kesah mencari pengganti kata saya dengan kata ganti lain karena asal kata tersebut dari sahaya yang berarti ‘budak’. Begitu pula mencari pengganti kata juara sebab makna awalnya yang negatif, yaitu kegiatan menyabung ayam. Tentu hal itu sia-sia saja dan tak ada gunanya.

Mengapa semua itu terjadi? Jawabnya tentu saja karena bahasa punya relasi erat dengan budaya penuturnya. Bahasa Aceh berelasi sangat erat dengan budaya masyarakat pengguna bahasa Aceh itu sendiri. Demikian pula dengan bahasa Spanyol yang saya sebutkan di atas. Relasi ini, menurut saya, bersifat satu arah (hanya antara bahasa dan pengguna bahasa itu). Jadi, tak bisa dikaitkan dengan budaya masyarakat lain yang tentunya berbeda bahasa.

Bahasa Indonesia dikaitkan dengan bahasa Suriani tentu tidak “klop’ sebab budayanya. Demikian pula kata Pokemon yang dipakai oleh Jepang tak akan pernah selaras jika dikaitkan dengan bahasa Suriani, apalagi dengan bahasa Indonesia. Bahasa Aceh dikaitkan dengan bahasa Gayo juga tidak akan sinkron, lagi-lagi karena budayanya. Tak dapat dibayangkan cukup banyak kata yang harus diganti bila dua bahasa atau lebih diselaraskan maknanya karena bentuk dan pelafalan yang sama. Pun jika dipaksakan, terjadilah benturan budaya yang mengakibatkan kegaduhan di masyarakat. Oleh sebab itu, bijaklah dalam berbahasa dan memahami bahasa. Ingat, bahasa bisa menjadi sumber konflik jika disalahgunakan.[]

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar