Dalam banyak hadis mengisyaratkan bahwa malam lailatul qadar (lailatulkadar) itu berada pada 10 terakhir Ramadhan (Ramadan). Dalam sebuah hadis, Siti Aisyah mengatakan, “Saat memasuki sepuluh akhir Ramadan, Rasulullah SAW. fokus beribadah, memperbanyak ibadah di malam hari, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah“. (HR: Al-Bukhari).
Hadis tersebut dijadikan Ibnu Bathal sebagai landasan bahwa lailatulkadar terdapat pada 10 akhir Ramadan. Abu Ishaq al-Syirazi, dalam kitabnya al-Tanbih menuliskan, “Dianjurkan mencari lailatulkadar di setiap malam Ramadan, terutama malam sepuluh akhir dan malam ganjil. Lailatulkadar paling sering diharapkan terjadi pada malam 21 dan 23. Saat malam lailatulkadar disunahkan membaca doa, 'Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku)'”.
Kebanyakan ulama memang berpendapat bahwa lailatulkadar terdapat pada sepuluh akhir Ramadan, terutama pada malam ganjil. Namun, tak berarti lailatulkadar tidak bisa datang pada malam genap atau sebelum 10 terakhir. Sangat mungkin lailatulkadar hadir di malam genap dan sebelum sepuluh terakhir.
Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah beribadah sebanyak mungkin dari awal hingga akhir Ramadan. Bisa jadi satu dari sekian banyak ibadah yang kita kerjakan bertepatan dengan malam penuh kemuliaan itu.
Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan, “Siapa yang mendirikan (memperbanyak ibadah) pada malam lailatulkadar atas dasar keimanan dan keikhlasan, maka dosanya diampuni, baik yang berlalu maupun yang akan datang”.
Hadis di atas menunjukkan kepada kita untuk kontinu dalam beribadah selama bulan Ramadan, terlebih sulus (sepertiga ) akhir bulan Ramadan.
Doa malam lailatulkadar