<!--StartFragment-->BLANGPIDIE - Banjir yang terjadi hari Minggu 15 Mei 2016 kemarin di Abdya menyisakan beberapa masalah. Salah satunya kuburan di kaki gunung Gampong Adan, Kecamatan…
<!–StartFragment–>BLANGPIDIE – Banjir yang terjadi hari Minggu 15 Mei 2016 kemarin di Abdya menyisakan beberapa masalah. Salah satunya kuburan di kaki gunung Gampong Adan, Kecamatan Tangan-Tangan, Abdya yang merupakan kuburan mantan pejuang kemerdekaan RI dan eks kombatan GAM yang dikuburkan di sana semasa konflik.
“Akibat banjir hari Minggu kemarin, tanah di sisi kuburan tergerus air dan tinggal semeter lagi dari liang kuburan, bila terjadi banjir lagi ditakutkan kuburan itu akan hanyut,” ungkap Wahidi, Keuchik Gampong Adan.
“Sudah pernah kami naikkan permohonan untuk pembuatan tanggul pengaman beberapa waktu lalu tapi belum ada tanggapan,” lanjutnya.
Dari informasi yang kami dapatkan, kuburan itu merupakan makam beberapa Pejuang kemerdekaan RI & pejuang GAM yang tewas tertembak semasa konflik.
“Salah satu pejuang kemerdekaan yang dikubur di situ adalah kakek dari ibu saya yang dikenal dengan nama Panglima Hitam, beliau tewas tertembak saat berperang dengan Belanda,” ungkap Abdul Halim, ahli waris dari Panglima Hitam.
“Sedangkan Pejuang Gam yang dikubur di situ keponakan saya, Karman alias si agam yang ditembak TNI saat terjadi kontak senjata semasa konflik,” sambungnya.
Fauzi, salah seorang pemuda yang sedang fokus mendesak pemerintah dalam penanganan bencana banjir, saat dimintai keterangannya mengatakan pemerintah harus segera merespon, ini harus dimasukkan ke dalam anggaran tanggap darurat karena bila telat ditangani, areal kuburan ini akan hanyut terbawa air,” ungkapnya.
“Apalagi itu kuburan pejuang kemerdekaan RI dan pejuang GAM,yang telah mempertaruhkan nyawa mereka untuk kesejahteraan kita semua,masak kuburan mereka saja tidak mampu di urus dan malah ditelantarkan” lanjut pemuda yang juga Ketua Rakan Mualem Abdya ini.
“Bila pemerintah tidak segera menanganinya,saya akan ajak pemuda & masyarakat untuk menyumbang dan bergotong royong membuat tanggul tersebut sebagai bentuk protes terhadap pemerintah,” katanya.<!–EndFragment–>[]
Penulis: Fauzi Rakan