MEDAN – London Love Story 2 kutonton di Cinema XXI Thamrin Plaza, Medan, Selasa 7 Maret 2017.
Saat sampai di ruangan bioskop berkursi merah itu, para petugas menjaja makanan dan minuman, sebelum film dimulai. Cinema XXI ini merupakan salah satu bioskop berkelas di Kota Medan, berada di lantai 7 Thamrin Plaza.
Begitu film dimulai, para penonton hanya mengisi sekira sepertiga kursi di tribun. Sebagian besar kursi itu tetap kosong sampai fim habis.
Aku dan Zahra, sebenarnya, bukan ingin menonton film itu, namun hanya itu yang ada dan kami kira sesuai. Sebenarnya kami ingin menonton film bersetting Istanbul, bukan London atau Swiss sebagaimana di film ini.
Ada film Surga yang Tak Dirindukan 2, diputar di waktu yang sama. Namun karena ia telah menonton bersama kawannya, aku memilih lain. Pu tanonton ata-ata sot.
Lalu apa ceritanya?
Ceritanya, aku yang tidak suka ruangan tertutup tanpa jendela dan apalagi dengan suara nyaring —-aku tidak suka nonton di bioskop walaupun mendukung itu harus ada di Aceh—–ditambah aroma makanan aneka bercampur, tentu saja pening, dan hampir saja keluar dari ruangan mimpi itu.
Untung saja setelah setelah beberapa puluh menit, tingkah lucu seorang pemain membuatku tertawa. Aku batal keluar, dan mulai menonton itu dengan serius.
Sepanjang film bergenre drama itu, aku yang menilai film Indonesia berkualitas buruk, masih berpendapat sama. Kalau bukan karena setting atau tempat ambil gambar film itu di London dan padang salju sky Swiss, sepertinya karcis film tersebut lebih kurang lagi peminatnya.
London Love Story 2 memiliki plot atau alur yang lemah
Kalau dibandingkan dengan film bergaya serupa yaitu film-film India atau Bollywood, film ini kurang interaksi dengan keluarga dan masyarakat.
Kalau dibandingkan dengan film Amerika atau Hollywood, film ini kurang padat dan kurang isi cerita.
Artinya, imajinasi orang bikin film dari Jakarta masih pada cerita kosong, tidak ada unsur filsafat, budaya, pendidikan, sejarah, atau hal penting lainnya, sebagaimana masyarakat film di negeri lain yang lebih maju, mampu memasukkan budayanya walaupun dalam film percintaan remaja sekalipun.
Inilah kelemahan orang Indonesia dalam bikin film, tidak punya nilai budaya. Penulis skenario, sutradara, dan produsernya kurang memahami kepentingan budaya.
Menonton film London Love Story 2 di Cinema XXI Thamrin Plaza, Medan ini, adalah kali kedua aku menonton film di bioskop. Yang pertama dulu, saat aku masih usia madrasah. Pada hari raya itu, aku dan beberapa anak lain di Paloh Dayah, menonton film di bioskop Cunda Plaza, yang kini jadi bangkai.
Di Cunda Plaza itu, kami salah beli karcis. Aku tidak suka film itu, tentang petarung Hongkong yang berlatar lingkungan kumuh. Sialan saat itu. Tapi yang penting bagi anak-anak di sana, saat itu, termasuk aku, bahwasanya kami telah ikut nonton film di bioskop Cunda Plaza.
Sebagaimana disiarkan wikipedia, London Love Story 2 adalah film Indonesia produksi Screenplay Films tahun 2017 bergenre drama yang disutradarai oleh Asep Kusdinar berdasarkan skenario yang ditulis oleh Sukhdev Sigh dan Tisa TS, merupakan sequel lanjutan dari London Love Story.
Film berdurasi 97 menit, ini dibintang oleh Dimas Anggara, Michelle Ziudith, Ricky Nazar, Ramzi, dan Salshabilla Adriani. London Love Story 2 dirilis secara serentak pada bulan Februari 2017.[]