LHOKSEUMAWE - Sering padamnya listrik PT. PLN (Persero) di Aceh selama bulan suci Ramadan, khususnya di malam hari, kerap mengundang keluhan bahkan cacian yang dilontarkan…
LHOKSEUMAWE – Sering padamnya listrik PT. PLN (Persero) di Aceh selama bulan suci Ramadan, khususnya di malam hari, kerap mengundang keluhan bahkan cacian yang dilontarkan pelanggan melalui media sosial (medsos).
Person Internal Contact (PIC) Humas PT. PLN Area Lhokseumawe, Ali Basyah kepada portalsatu.com, Senin, 29 Mei 2017, mengatakan, pemadaman itu karena beban puncak pemakaian listrik menjelang Magrib naik drastis.
Saat ada kekurangan daya listrik yang tidak mencukupi kebutuhan pelanggan, terutama saat beban puncak menjelang Magrib, saat itulah PLN melakukan pengurangan beban sesuai kebutuhan untuk mencegah terjadinya black out atau pemadaman total yang mengakibatkan pemadaman lebih luas dan lebih lama,” ujarnya.
Ali melanjutkan, “Kondisi ini tidak dapat dihindari bila beban pemakaian pelanggan melebihi dari ketersediaan daya listrik dari pembangkit PLN”.
Menurut Ali, beban pemakaian energi listrik pelanggan PLN tidak stabil atau selalu fluktuatif. Tergantung besar kecilnya pemakaian listrik oleh pelanggan yang sangat berpengaruh dengan kondisi dan waktu.
Ali mencontohkan, pemakaian listrik di siang hari lebih sedikit dibandingkan malam hari. “Beban pemakaian energi listrik pelanggan akan mulai naik drastis justru pada saat menjelang Magrib sampai lepas salat Isya (salat Tarawih selama bulan puasa). Waktu tersebut adalah saat-saat pemakaian energi listrik tertinggi atau diistilahkan beban puncak,” ujarnya.
Karena itu, PLN mengimbau semua pelanggan agar mengurangi pemakaian listrik yang tidak begitu penting, terutama saat beban puncak. “Kami juga mohon doa dari semua pelanggan semoga kondisi kekurangan daya pembangkit PLN yang sedang terjadi gangguan dapat segera teratasi, sehingga PLN dapat kembali melayani kebutuhan listrik pelanggan tanpa padam,” pungkas Ali.[]