LHOKSEUMAWE - Direktur Internasional Yayasan Geutanyoe, Lilianne Fan, memuji kekuatan dan kepedulian besar yang ditunjukkan masyarakat Aceh terhadap etnis Rohingya di Australia. Menurutnya, masyarakat dunia…
LHOKSEUMAWE – Direktur Internasional Yayasan Geutanyoe, Lilianne Fan, memuji kekuatan dan kepedulian besar yang ditunjukkan masyarakat Aceh terhadap etnis Rohingya di Australia.
Menurutnya, masyarakat dunia kini mendapat banyak pelajaran dari tindakan mulia para nelayan Aceh, dengan menyelamatkan kapal pengungsi Rohingya yang terdampar di laut pada Mei 2015 lalu .
Hal tersebut, dikatakan Lilianne Fan kepada khalayak yang hadir saat konferensi Penguatan Perlindungan terhadap Pengungsi, yang diselenggarakan di Universitas New South Wales Sydney, Australia pada 22 Februari 2017 lalu.
Di saat pemerintah kita mendorong dan menolak jauh-jauh kapal para pengungsi, namun nelayan Aceh mempertaruhkan hidup mereka sendiri untuk menolong orang-orang yang putus asa di dalam kapal tersebut dengan kondisi teramat menyedihkan, serta mereka meyakinkan pemerintah setempat untuk mengambil dan menyediakan penampungan sementara, ujar Liliane Fan mengisahkan penyelamatan fenomenal nelayan Aceh dalam siaran persnya diterima portalsatu.com, Jumat, 24 Februari 2017.
Liliane Fan juga menyebutkan sesuai hasil amatannya bagaimana kekerasan militer terjadi secara ekstrim di negara bagian Rakhine, telah mengakibatkan pergeseran cukup signifikan di tubuh para anggota ASEAN. Secara khusus, Indonesia dan Malaysia akhirnya bersuara untuk bersimpati dan melakukan tindakan-tindakan guna mencegah terjadinya kekerasan. Kedua negara ini juga menyerukan para dewan ASEAN agar tidak berdiam diri dan tidak melakukan intervensi.
Konferensi yang berlangsung selama dua hari tersebut diselenggarakan oleh Dewan Pengungsi Australia bekerjasama dengan Universitas New South Wales.
Turut hadir Dr Munjed Al Muderis, yang adalah mantan pengungsi juga seorang ahli bedah ortopedi dari Baghdad. Dia datang ke Australia dengan perahu melalui Malaysia dan Indonesia.
“Beliau menjadi contoh pengungsi yang berhasil berintegrasi secara administratif dan ikut serta berkontribusi untuk masyarakat baru mereka,” kata Lilianne Fan.[]