LHOKSUKON – Masyarakat Gampông Keureutoe, Kecamatan Lapang, Aceh Utara mengeluhkan kondisi leaning yang runtuh usai dikerjakan beberapa bulan. Dua proyek leaning yang runtuh itu masing-masing, 30 meter dari proyek gampông 2015 dan 20 meter lainnya yang dikerjakan Dinas Pengairan dan Energi Sumber Daya Mineral Aceh Utara.

“30 meter leaning yang dikerjakan melalui proyek gampông sudah runtuh, padahal baru rampung tiga bulan lalu. Runtuhnya leaning itu sebenarnya sudah lama, tepatnya saat musim hujan beberapa waktu lalu. Kami sudah sampaikan persoalan itu ke rekanan yang bersangkutan, tapi kata rekanan tidak ada dana lagi. Proyek itu dikerjakan dengan dana APBN 2015 senilai Rp 161 juta lebih dengan volume 452 meter,” kata Arahman, 45 tahun, warga Gampông Keuretuoe kepada portalsatu.com, Selasa, 26 Juli 2016.

Ia dan warga lainnya kata Arahman sangat kecewa karena tidak ada pemberitahuan kepada aparat gampông. Itu diketahui setelah warga mempertanyakan kepada Tuha Peut, namun mereka (Tuha Peut) mengaku tidak tahu siapa yang menerima proyek leaning tersebut.

“Saya juga sudah tanya geuchik dan dikatakan itu urusan TPK atas nama A Wahab. Ketika saya tanya A Wahab dijawab, dana yang diberikan geuchik belum sepenuhnya. Namun saat saya pertanyakan lagi ke bendahara Abdul Manaf Gani, malah dikatakan A Wahab sudah mengambil semua dana itu. Saya bingung jadinya,” ujar Arahman.

Rajali, 31 tahun, warga lainnya menambahkan, leaning gampong itu rusak karena dilintasi alat berat. Namun demikian sudah dibayar ganti rugi ke rekanan yang bersangkutan. Tapi anehnya belum juga dikerjakan kembali.

Hal lainnya diungkap Ketua Tuha Peut, Ibnu Hasyem. Ia menyebutkan, saat ini petani kesulitan karena leaning sumbat akibat 20 meter proyek leaning dari dinas roboh. Saat proses pengerjaan di lokasi tidak ada plang atau pamplet, sehingga tidak diketahui ukuran dan jumlah dana.

“Selama ini 50 Ha sawah memakai sistem pompanisasi dengan pengeluaran biaya sekitar 10 liter bensin. Rusaknya leaning mengakibatkan air sungai terhambat mengalir ke sawah. Alhasil pengeluaran menjadi dua kali lipat dengan memakan biaya 20 liter bensin. Ada tiga unit mesin pompanisasi yang digunakan di tiga titik berbeda,” katanya.

Sementara itu, Geuchik Keuretoe, Hasballah mengatakan, dua titik leaning yang rusak itu dikerjakan secara terpisah pada tahun 2015. Satu titik dikerjakan dengan dana gampông dan satu lainnya dikerjakan dinas. Untuk leaning gampông akan dikerjakan kembali, hanya saja belum ditentukan waktunya.

“Kala itu hujan deras, tiba-tiba melintas excavator jadinya roboh. Saat dikerjakan dan diserahterimakan leaning itu kondisinya bagus. Saya tidak tahu jumlah anggaran karena tidak ada plang proyek. Penyebab rusaknya leaning gampông juga sama, karena dilintasi truk pengangkut material. Kejadian itu juga hanya berselang dua hari setelah roboh leaning sebelumnya. Kondisi ini sudah dilaporkan ke dinas, tapi tidak ada tanggapan. Namun demikian ganti rugi telah diberikan pihak pemilik excavator,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengairan dan Energi Sumber Daya Mineral Aceh Utara, Mawardi hingga saat ini belum berhasil dihubungi. Pesan yang dikirim juga belum dibalas.[](ihn)