LHOKSUKON – Korban banjir di Desa Buket Linteung dan Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara mulai diserang gatal-gatal. Hingga Sabtu 24 Oktober 2015 sore banjir belum juga surut. Namun demikian bantuan dari Pemkab Aceh Utara belum juga tiba.
Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Buket Linteung, Muktar kepada portalsatu.com menyebutkan, ketinggian air di pemukiman warga masih bertahan seperti kemarin (Jumat-red). Bagi warga yang terserang gatal-gatal mengandalkan pengobatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) setempat.
Banjir masih bertahan, jika pun ada surut cuma 5 inci. Belum ada bantuan apapun dari pemerintah. Semalam (Jumat) yang sudah datang bantuan tenda dari Kodim 0103/Aceh Utara. Secara pribadi saya tidak laporkan lagi ke camat kondisi terakhir, karena dari kemarin dilaporkan pun tidak ada respon, ujar Muktar.
Kondisi itu dibenarkan Keuchik Buket Linteung, Teuku Yasin Said. Ya, banjirnya masih sama seperti kemarin. Tidak surut, tapi juga tidak bertambah. Sebagian warga masih mengungsi. Bantuan belum ada, ucapnya.
Sementara itu Geuchik Desa Leubok Pusaka, Jaharuddin mengatakan, di desanya banjir mulai surut dan hanya menyisakan di beberapa titik rendah saja.
Kemarin warga sempat mengungsi, tapi sekarang sudah pulang ke rumah masing-masing. Namun yang kembali ke rumah hanya penghuninya saja, sementara barang yang telah diungsikan masih berada di tempat semula, jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi banjir terparah di Desa Leubok Pusaka terjadi di Dusun Tanah Merah. Saat ini jalan lintas Dusun Tanah Merah menuju Dusun Bidari belum dapat dilintasi karena ketinggian air di badan jalan masih setinggi 1,5 meter.
Kami takut akan datangnya banjir susulan, mengingat air sungai masih tinggi. Ditambah lagi curah hujan yang tinggi menjelang November dan Desember. Kondisi ekonomi masyarakat kian terpuruk saat banjir. Kami tidak bisa bekerja dan hanya mengandalkan makan yang ada, kata Jaharuddin.
Saat ini, lanjutnya, coklat (kakao) mulai memasuki musim panen. Namun banjir akan mengakibatkan kualitas buah menurun, bahkan membusuk. Bagi warga yang mengalami gatal-gatal mendapat obat/pengobatan dari bidan desa (bides).
Terkait penanggulangan banjir dengan cara membuat tanggul sungai yang dikatakan camat setempat, Jaharuddin berpendapat lain.
Dari pada buang uang milyaran untuk membangun tanggul, lebih baik membangun rumah untuk warga di kawasan bukit. Meski hanya rumah kayu, itu lebih baik. Lagi pula di sini banyak kayu dengan harga lebih murah. Saya rasa itu lebih efektif dari pada harus membangun tanggul yang memakan biaya luar biasa, beber Jaharuddin.[]


