TURUN Tangan Aceh nama lembaganya. Lembaga ini hadir sejak 23 Desember 2013 yang beralamat di Jalan Elang, Ateuk Pahlawan, Banda Aceh. Turun Tangan Aceh merupakan komunitas yang bergerak di bidang politik, sosial, dan lingkungan.
Gerakan yang didasari atas keyakinan ini semua orang bisa berpartisipasi untuk melunasi janji kemerdekaan. Gerakan ini digandrungi oleh muda-mudi Aceh yang berjiwa sosial tinggi, kreatif, kritis, dan energik.
Turun Tangan Aceh merupakan sub bagian dari program Turun Tangan pusat sejak Juli 2013 yang mendorong keterlibatan orang untuk menyelesaikan masalah yang ada di lingkungannya dengan think big, start small, and act now, yaitu berpikir besar mulai dari hal kecil serta langsung bertindak atau beraksi.
Komunitas ini dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Anies Baswedan. Banyak gerakan yang lahir dari tokoh muda ini, yaitu Indonesia Mengajar (IM), Indonesia Menyala (IM), Kelas Inspirasi (KI), dan terakhir Turun Tangan (TuTa). Semua gerakan ini bergerak di bidang pendidikan, kecuali TuTa yang bergerak di bidang politik.
Peran TuTa mengajak anak muda agar tidak alergi terhadap politik serta mendorong pemuda yang berintergritas dan memiliki jejak yang baik untuk menjadi pengambil kebijakan. TuTa bersama komunitas lain juga peduli terhadap isu lingkungan seperti program penanaman bakau.
Untuk saat ini, TuTa bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan kualitas relawan dengan berbagai pelatihan baik itu jurnalistik, corel, menulis, TOEFL, dan melunasi janji kemerdekaan mencerdaskan anak bangsa melalui program Turun Tangan Aceh mengajar, kata Rahmat Hidayat Munandar S.IP, Koordinator Turun Tangan Aceh saat dihubungi portalsatu.com melalui sosial media LINE Kamis malam, 5 November 2015.
Relawan turun tangan adalah konseptor sekaligus eksekutor ide positif tanpa harus bergantung pada humas atau perusahaan yang memberi bantuan serta memiliki membangun wadah gerakan sosial relawan disetiap kota maupun kabupaten.
Selain itu, TuTa juga menyebarluaskan gerakan yang berdampak pada penyelesaian masalah sosial, dan politik serta menyiapkan pemimpin masa depan yang berintegritas dengan memiliki nilai relawan yang peduli, bergerak, indenpenden, komitmen, partisipatif, nasionalisme, dan kolaboratif. TuTa sudah terbentuk di beberapa kota besar berupa Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Medan, Banda Aceh, dan Lhokseumawe, ujarnya.
Menteri pendidikan Indonesia dan teman-teman juga menyiapkan TuTa untuk menjadi platform crowdsourcing, dalam artian setiap orang dimana saja dan kapan saja bisa menyumbangkan ide, tenaga, waktu, dan uang untuk melunasi janji kemerdekaan. Sangat diharapkan kepada alumni TuTa menjadi pemimpin masa depan yang memiliki wawasan kelas dunia, ujar Rahmat Hidayat. []
Laporan: Maisarah