BANDA ACEH – Orasi politik Cagub Irwandi Yusuf di Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, Jumat 18 November 2016, yang mengklaim keberhasilan dirinya membangun ekonomi saat ia memimpin Aceh, dinilai terlalu berlebihan. Jika dilihat dari data pertumbuhan ekonomi yang ada, jelas terlihat bahwa ekonomi Aceh pada saat itu tidak tumbuh seperti yang digambarkan olehnya.

Demikian disampaikan Koordinator Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) Wien Rimba Raya kepada portalsatu.com, Minggu, 20 November 2016 siang.

“Secara rata-rata ekonomi Aceh pada waktu itu, masih tumbuh rata-rata di bawah 6,0 persen. Jadi tidak ada capaian angka yang patut dibanggakannya,” kata Wien Rimba Raya.

Menurut Wien Rimba Raya, pernah pada tahun 2008 angkanya anjlok yaitu 1,88 persen (non migas) dan -5,24 persen (migas). Sayangnya lagi, Irwandi Yusuf melupakan pengaruh kegiatan proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan BRR pada masa kepemimpinannya.

“Pengaruh keberadaan lembaga yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto ini sangat terasa dan tidak bisa dikesampingkan. Nah, kelemahan Irwandi adalah terlalu percaya diri, dan terkesan kurang menghargai dan tidak respek pada hasil kerja lembaga BRR, NGO/LSM yang waktu itu bertaburan jumlahnya di Aceh dengan berbagai bantuan program/kegiatan kepada anggota masyarakat, pelaku usaha ekonomi mikro-kecil, dan sebagainya,” kata Wien Rimba.

Menurut Wien dengan kondisi tersebut tidak dapat dikatakan jika semua hal yang dicapai itu merupakan kebijakan anggaran APBA, selama Irwandi menjadi Gubernur Aceh. Apalagi menurut Wien jika Irwandi mengabaikan keberadaan rekan-rekan dari partai lokal seperti Partai Aceh, yang ada di parlemen waktu itu.

“Jika Irwandi menyatakan ia berhasil membangun ekonomi pada masa kepemimpinannya, coba simak angka persentase penduduk miskin pd masa itu. Jelas angka persentase kemiskinannya masih cukup tinggi,” kata Wien lagi.

Dia mencontohkan pada 2010 persentase angka kemiskinan mencapai 20,98 persen, kemudian 2011 sebanyak 19,48 persen, dan pada 2012 sebesar 18,58 persen. Jumlah ini menurut Wien jauh di atas rata-rata angka nasional. “Nah, mana dan apa yang patut dibanggakannya?”

Wien Rimba Raya juga menyebutkan secara kesejahteraan masyarakat pun tidak ada hal yang bisa dibanggakan selama kepemimpinan Irwandi Yusuf. Dia kemudian memaparkan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Aceh pada masa itu. Secara rata-rata menunjukkan IPM Aceh masih rendah.

“Sebagai gambaran, IPM Aceh hingga akhir tahun kepemimpinannya masih sebesar 72,16,” ujar Wien.

Politisi dari Dataran Tinggi Gayo ini juga meragukan keberhasilan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang menjadi andalan Irwandi Yusuf untuk mencalonkan diri kembali sebagai Gubernur Aceh. Menurut Wien mantan Gubernur Aceh itu melupakan tata kelola JKA yang dihadapkan pada banyak masalah.

“Pelayanan oleh pihak penyedia jasa kesehatan mulai puskesmas hingga jenjang yang lebih tinggi hampir smuanya dirudung banyak masalah. Tidak terlihat kapasitasnya yang menonjol dalam mengatasi pelbagai masalah yang ada saat itu,” kata Wien.

Wien turut memaparkan sejumlah fakta yang ditemui selama berjalannya program JKA. Salah satunya seperti dana kapitasi puskesmas yang pernah macet hingga tujuh bulan karena pihak pemerintah lupa memantau. Akibatnya, sebagian besar puskesmas mengalami kesulitan pada waktu itu dikarenakan buruknya manajemen pengelolaan JKA. 

Masalah lainnya yang ditemui selama program JKA yaitu adanya pasien yang harus membeli obat dengan biaya pribadi akibat rendahnya komitmen para pihak pengelola. Selanjutnya Wien juga menemukan fakta tidak teratasinya kasus rujukan dari puskesmas hingga ke rumah sakit yang lebih tinggi. Jumlah kasus tersebut kemudian terus bertambah, akibat ketidakmampuan dalam mengelola proses ini dengan baik.

“Jika dia katakan bahwa ke depan akan menambah dana untuk gampong, tentu ada yang keliru. Mengapa? Bukankah tiap gampong sekarang sudah ada bantuan dana desa yang bersumber dari APBN dengan jumlah yang sangat memadai,” kata Wien.

Seharusnya, ke depan seorang gubernur harus berfokus pada bagaimana dana gampong itu dikelola secara produktif. “(Caranya) dengan lebih pada penguatan ekonomi gampong melalui dukungan infrastruktur yang kuat di tiap gampong,” kata Wien.

“Itulah faktanya, kita berharap semua calon  pemimpin tidak mengeluarkan pernyataan yang cenderung membohongi rakyat dengan retorika politik belaka demi mencapai kepentingan pribadi, dan lebih mengutamakan kepentingan Aceh di atas segalanya,” ujar Wien Rimba Raya yang menjagokan pasangan Muzakir Manaf-TA Khalid di Pilkada 2017 ini.[]