Oleh: Nurul Atika Khair*
Tahun terakhir masa pendidikanku di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini begitu berkesan. Pengalaman-pengalaman manis yang sepanjang jalan kehidupanku akan selalu terkenang. Tak salah memang, mengapa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dibuat setelah menempuh lebih dari 100 SKS. Seolah dibuat hanya untuk mahasiswa semester akhir yang akan menamatkan delapan semester masa kuliah normalnya. KKN angkatan ke XII ini berlangsung dari tanggal 11 Januari sampai dengan 10 Februari 2017.
Liburan semester ini, aku tidak bisa pulang ke kampung halaman. Sebagai anak rantau, berpijak di ranah orang lain itu tidaklah mudah. Selain membawa nama daerah asal, perantau juga dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat. Begitu juga dengan KKN yang serta merta membawa nama almamater. Daerah penempatan aku dan enam orang kawanku KKN kali ini yaitu kampung Pantan Sinaku. Satu diantara dua puluh tiga kampung yang ada kecamatan Pintu Rime Gayo kabupaten Bener Meriah.
Bagi sebagian orang, KKN akan menjadi momok yang menakutkan. Hidup di negeri asing dengan orang-orang asing. Tentulah tak salah jikalau rumor itu ada, toh bukannya daerah-daerah tujuan KKN itu merupakan daerah yang masih dalam status berkembang?. Bener Meriah salah satunya, belakangan ketika pembekalan KKN aku mengetahui bahwa kabupaten ini baru saja memisahkan diri dari mekarannya tiga belas tahun silam.
Suka atau tidak, aku harus melaksanakan KKN ini senyaman mungkin agar rasa rindu akan kampung halaman dapat dikesampingkan.. Dari awal pembekalan, aku berusaha menikmati KKN ini. Seolah menjadi mahasiswa baru kembali, aku dan kawan-kawan kelompok lain dituntut untuk mengenal satu sama lain agar menjadi tim yang solid. Banyak hal yang harus disiapkan ketika mau tidak mau menetap di tempat ini, seolah ketika berikrar hendak pergi ke tempat ini maka akan siap siaga dengan bekal untuk persiapan panjang selama satu bulan, mulai dari makanan, pakaian seadanya, selimut secukupnya, hingga berpuas hati dengan sinyal (terkadang) seadanya.
Awal kedatangan kami di kampung itu cukup mengesankan tentunya, mengingat medan yang harus ditempuh menuju kampung tujuan tidaklah mulusKampung pantan sinaku berjarak lebih kurang 13 km dari jalan raya. Kurang lebih tujuh ratus meter ketika hendak sampai di Pantan Sinaku merupakan medan yang sulit untuk dilewati. Jalanan menanjak, berbatu, dan licin menjadi saksi perjuangan bagaimana kami berjalan kaki hingga sampai ke tempat tujuan. Baru ketika menetap kami mengetahui, bahwa keseluruhan jalan di kampung ini masih berupa tanah berbatu yang akan menjadi licin apabila hujan turun. Inilah jalan yang dilewati adik-adik berjalan kaki untuk bersekolah, jalan inilah yang harus dilewati untuk pergi ke kebun, dan jalan inilah yang harus dilewati ketika mengangkut hasil kebun. Hingga akhir pelaksanaan KKN pun, kami hanya berkesempatan turun ke kota kecamatan sebanyak dua kali yaitu untuk mencari sinyal mengisi KRS dan untuk mendampingi adik-adik ikut lomba.
Pernah sekali, di hari kedua kedatangan kami, kami diajak bergabung bersama warga-warga kampung, salah seorang warga menanyakan tentang jurusan kami mahasiswa KKN dan setelah mendengar jawaban dari kami beliau berkata Lah, kok tidak ada jurusan pertanian disini, toh disini yang ada banyak kebun, jadi apa yang akan kalian kerjakan?. Kami merasa tertohok mendengar perkataan beliau, seolah-olah kedatangan kami tidak begitu diinginkan. Betul memang apa yang beliau katakan, tak seorang pun dari kami yang menjurus di bidang ini. Apalagi, ketika kedatangan kami itu merupakan masa-masa panen kebun kopi yang hanya terjadi dua tahun sekali, seolah-olah para petani menyampaikan harapan besar dengan kedatangan kami mahasiswa KKN. Tak salah memang, tanah seluas 4200 hektar tanah kampung pantan sinaku ini, sembilan ratus hektarnya merupakan lahan perkebunan yang tercatat di data kampung. Hampir keseluruhan warga menggantungkan hidup mereka pada hasil kebun, baik itu sebagai pemilik kebun ataupun sebagai pekerja di kebun orang. Seketika sempat timbul keraguan, apakah yang dapat kami berikan pada kampung ini?
Kami sadar, kami berada di rantau orang. Minggu pertama kami putuskan untuk menggunakan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Minggu itu termasuk waktu-waktu berat, karena sembari dituntut untuk mengenal sesama anggota kelompok kami harus terlihat kompak dihadapan warga karena masih di masa-masa awal kedatangan. Rumah-rumah warga yang terdekat kami kunjungi, warga-warga yang lewat kami sapa, hingga posko kami buka lebar hingga malam tiba. Letak posko yang strategis di persimpangan, menjadikan kami dapat mengcover ketidakmampuan kami untuk menjadi lebih dekat dengan 193 Kepala Keluarga di empat dusun yang ada di pantan sinaku ini, sehingga setiap orang yang lewat tau tentang keberadaan kami. Hasilnya, alhamdulillah memasuki minggu kedua kami sudah banyak mengenal dan dikenal warga, kami sudah mulai sering menerima warga yang kadang sekedar mampir ke posko untuk duduk ataupun ngopi, bahkan sekedar numpang ngisi batrei hape, ibu-ibu yang terkadang mampir menanyakan menu makan kami hingga ibu-ibu yang datang membawa makanan, adik-adik yang datang untuk sekedar bermain hingga belajar, bahkan hingga kucing-kucing peliharaan datang bersama tuannya, hingga ayam-ayam dan anjing akan menjadi penunggu ketika kami mencuci piring. Seketika itu, kami merasa sudah menjadi bagian dari warga kampung.
Alhasil, kami kadang menjadi kewalahan menerima kedatangan warga di posko KKN, pagi hari sudah didatangi adik-adik yang berangkat sekolah untuk sekedar pamit, siang harinya sudah didatangi di posko untuk buat pr, sore hari didatangi ibu-ibu yang belajar merajut, bahkan malam hari abang-abang yang jaga malam keluar masuk posko bahkan hanya untuk minum segelas kopi. Hingga akhirnya, program KKN itu kami menjalankannya sambil menyambi. Kami menjalankan program nyicil sedikit demi sedikit setiap ada kesempatan. Kerap kali kami menerima masukkan dari warga tentang berbagai hal yang hendak dilakukan. Bahkan, program mandiri sering kali dilaksanakan belakangan karena kami harus melaksanakan program kelompok terlebih dahulu. Saking banyaknya program yang datang ditawari warga, secara sopan dan jujur kami sampaikan ketidakmampuan kami lagi untuk merealisasikan program itu.