TERKINI
EKBIS

Kisah Tiara Berjualan di Tepi Jembatan Demi membeli Baju dan Sandal Baru di Hari Raya

BANDA ACEH - Buah jamblang atau boh jambee kleng kini memasuki musim panen. Buah yang tumbuh liar di area perbukitan dan perkarangan rumah warga di…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.8K×

BANDA ACEH – Buah jamblang atau boh jambee kleng kini memasuki musim panen. Buah yang tumbuh liar di area perbukitan dan perkarangan rumah warga di perbukitan pesisir ini memiliki rasa manis asam agak sedikit kelat. Si hitam mungil ini mungkin sudah tidak asing lagi di lidah masyarakat Aceh.

Banyak cara mengkonsumsinya. Menurut tradisi masyarakat Aceh, buah jamblang atau boh jambee kleng ini bisa dimakan dengan menggunakan garam, cabai dan pliek u (kelapa yang sudah dipermentasi).

Pada musim panen biasanya banyak pedagang yang menjajakan buah jamblang ini menggunakan meja dengan lapak seadanya, tanpa atap bahkan juga tanpa alas tempat duduk. Mereka duduk di tepi jalan, berharap ada yang membeli jerih payah mereka memetik buah dari kebunnya.

Ketika akan menaiki Jembatan Pante Pirak, Banda Aceh, kita bisa menemukan beberapa lapak yang didominasi pedagang cilik. Meskipun cuaca terik tapi tak menyurutkan semangat anak-anak ini untuk mencari uang dengan berdagang buah jamblang.

Salah seorang pedagang cilik sore itu ialah Tiara Latifha Elfiana yang berasal dari Ujung Batee, Aceh Besar. Dengan memakai dua buah keranjang ia pun bersemangat berdagang, meskipun masih berumur 9 tahun tetapi ia sudah giat bekerja, mencari uang buat diberi kepada ibunya untuk membeli pakaian dan sendal baru dalam menyambut hari raya Idul fitri.

Tiara mengatakan setiap pukul 16:00 ia diantarkan ayahnya yang berprofesi sebagai penarik becak ke lapak di tepi jembatan itu. Abu dan panas terik bukan masalah baginya, yang terpenting buah jamblang yang sudah disusun rapi dengan gelas plastik itu habis terjual.

Pergelas Jamblang Ia jual seharga Rp 5000, namun terkadang perharinya dia hanya mampu menjual 5 hingga 6 gelas dari jumlah yang disusun sebanyak 12 gelas. Ia mengaku tidak sendiri berdagang di lapak itu, karena setelah lapak di dekatnya ada lapak abang kandungnya bernama Rian yang selalu menjaganya.

Tiara mengatakan selama berdagang buah jamblang ditepi jembatan itu tidaklah mulus. Ia sering  menyelamatkan barang dagangnya ketika Satpol PP datang. Ketika Satpol PP merazia pedagang di tepi jembatan itu, ia pindahkan daganganya ke sisi kiri jembatan, karena hanya di lokasi itu dagangannya aman dan tidak diangkut.

Tiara bercita-cita ingin menjadi guru. Hobinya adalah membaca dan menulis. Tiara mengaku berdagang jamblang lantaran tidak ada pilihan lain demi membantu ayah dan ibunya.

Dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri kali ini, Tiara ingin mengenakan baju baru dan membeli sendal barunya yang sudah rusak. Karena itu ia harus giat berdagang supaya impiannya membeli kebutuhan lebaran pun terwujud.

Tiara adalah sebagian kisah dari anak yang masih berjuang mencari nafkah demi membantu orang tua mereka yang berada digaris kemiskinan. Sosok Tiara akan menginspirasi banyak orang. Tiara yang di garis kemiskinan lebih memilih berdagang dengan halal daripada ia harus meminta-minta mengharapkan belas kasihan di Kota Madani ini. 

Laporan Ramadhan

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar