BANDA ACEH – Buah jamblang atau boh jambee kleng kini memasuki musim panen. Buah yang tumbuh liar di area perbukitan dan perkarangan rumah warga di perbukitan pesisir ini memiliki rasa manis asam agak sedikit kelat. Si hitam mungil ini mungkin sudah tidak asing lagi di lidah masyarakat Aceh.
Banyak cara mengkonsumsinya. Menurut tradisi masyarakat Aceh, buah jamblang atau boh jambee kleng ini bisa dimakan dengan menggunakan garam, cabai dan pliek u (kelapa yang sudah dipermentasi).
Pada musim panen biasanya banyak pedagang yang menjajakan buah jamblang ini menggunakan meja dengan lapak seadanya, tanpa atap bahkan juga tanpa alas tempat duduk. Mereka duduk di tepi jalan, berharap ada yang membeli jerih payah mereka memetik buah dari kebunnya.
Ketika akan menaiki Jembatan Pante Pirak, Banda Aceh, kita bisa menemukan beberapa lapak yang didominasi pedagang cilik. Meskipun cuaca terik tapi tak menyurutkan semangat anak-anak ini untuk mencari uang dengan berdagang buah jamblang.
Salah seorang pedagang cilik sore itu ialah Tiara Latifha Elfiana yang berasal dari Ujung Batee, Aceh Besar. Dengan memakai dua buah keranjang ia pun bersemangat berdagang, meskipun masih berumur 9 tahun tetapi ia sudah giat bekerja, mencari uang buat diberi kepada ibunya untuk membeli pakaian dan sendal baru dalam menyambut hari raya Idul fitri.

Tiara mengatakan setiap pukul 16:00 ia diantarkan ayahnya yang berprofesi sebagai penarik becak ke lapak di tepi jembatan itu. Abu dan panas terik bukan masalah baginya, yang terpenting buah jamblang yang sudah disusun rapi dengan gelas plastik itu habis terjual.