TERKINI
FEATURE

Kisah Seorang DPL Unsyiah di Idi Cut, ‘Ini Baru Namanya KKN’

Fakhruddin, salah satu dosen DPL KKN Unsyiah di Idi Cut Aceh Timur. Ia pengampu di Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan. Ia biasa dipanggil Bang Rudy…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.6K×

Fakhruddin, salah satu dosen DPL KKN Unsyiah di Idi Cut Aceh Timur. Ia pengampu di Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan. Ia biasa dipanggil Bang Rudy oleh mahasiswa karena dirinya juga salah satu alumni di almamater tersebut.

Pada tanggal 22 Juni 2016 Rudy beserta adek-adek mahasiswa turun ke Idi untuk survei lokasi. Seperti biasa sebelum aktifitas KKN mahasiswa harus survei dulu agar tahu lokasi dan geuchik masing-masing kelompok KKN. Pada periode kali ini ia mendapat 6 kelompok, setiap kelompok terdiri 4 mahasiswi dan 2 mahasiswa, dengan fakultas dan jurusan yang berbeda-beda.

Di Kecamatan Nurussalam terdapat 31 gampong. Ia mendapat tugas di 6 Gampong, yaitu Gampong Lhee, Beurandang, Gampong Jalan, Gampong Seuneubok Rambong,Gampong Buket Panjo, dan Gampong Buket Merak.

Dari 6 gampong ada beberapa gampong yang melewati rintangan, salah satunya jalan setelah Gampong Buket Panjo dan Gampong Buket Merak menuju ke Gampong Jalan, dengan jalan yang begitu rusak dan sulit dilalui, kecil tanpa aspal, dan melewati jembatan yang tengah diperbaiki.

Dari Gampong Jalan ke Gampong Seuneubok Rambong sangat mengerikan, jalan begitu sulit dan dilingkari pohon-pohon karet, rumah hanya terdapat sekira 100 meter berjarak dari rumah lainnya, jalan sepi membuat mereka ketakutan.

Setelah menjumpai Gampong Seuneubok Rambong tidak jauh dari situ langsung Gampong Beurandang, suasana di Gampong agak sepi. Merutu geuchik di sana,  anak-anak muda di gampong itu merantau.

Gampong yang terakhir adalah Gampong Lhee, jaraknya 7 kilo meter dari Gampong Beurandang, ternyata rintangannya lebih-lebih parah dari jalan yang lainnya. 

Untuk menuju ke Gampong Lhee, Rudy dan rombongan terpaksa harus meminjam sepeda motor Geuchik Gampong Beurandang karena tidak bisa melewati menggunakan mobil. Jalan yang kecil dan berbatu, hutan yang lebat dan bukit-bukit yang tinggi.

Menuju ke Gampong Lhee hanya 7 kilo meter, namun yang jauhnya adalah rumah Pak Geuchik. Untuk menjuju rumah itu harus berjalan lagi sekira 6 kilo meter dari perkampungan.

“Pak Geuchik tinggalnya di M3. Ini baru namanya KKN, semenjak saya jadi DPL, baru kali ini masuk perdalaman. Saya pernah ditugaskan di Pidie dan Pidie Jaya, jadi DPL, biasanya di sana tempat tujuan paling sekitar 5 kilo meter dari jalan nasional, sedangkan di Idi lebih kurang 30 kilo meter masuk ke dalam,” kata Rudy, di sela-sela perjalanan.[]

Penulis: Yulianda Yolanda

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar