Sudah 18 tahun Kusmiati (52) menyimpan perih akibat kehilangan anaknya yang jadi korban kerusuhan Mei 98. Rekaman peristiwa tragis itu terekam betul dalam ingatannya.

“Anak pertama saya Mustofa, hilang saat itu,” ujarnya saat ditemui di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur, Sabtu (14/5).

Dia mengumpulkan kembali kepingan kenangan pahit kehilangan anaknya. Dengan nada perlahan Kusmiati menceritakan peristiwa kelam saat itu. Saat peristiwa itu terjadi anaknya masih duduk di bangku kelas 2 SMP PGRI 20 Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Seperti biasa, hari itu Mustofa pergi bermain bersama teman sebayanya. Setelah matahari terbenam dan bulan mulai bersinar, Mustofa tak kunjung pulang ke rumah yang terletak di Cipinang Muara II.

“Kata teman-temannya, anak saya di depan mal Jogja Klender, saya cari tetap nggak ketemu,” kenangnya.

Selama tiga hari berturut-turut Kusmiati mencari keberadaan anaknya. Dia hanya berharap anaknya baik-baik saja. Nahas menimpa Mustofa. Kusmiati menemukan anaknya di kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam keadaan tak bernyawa.

Hatinya hancur melihat jenazah anaknya yang tak lagi utuh. Sebelum menemukan anaknya meninggal, Kusmiati mengaku punya firasat dan mimpi buruk.

“Sudah gosong. Posisinya waktu saya lihat dia kayak minta tolong gitu. Dengkul kaki ke bawah enggak ada, kalau badan ke atas gosong semua. Saya tahu itu dia dari celana dalam sisa-sisa bajunya, bajunya motif kotak-kotak halus, celana dalam coklat.”

Dia ingat betul ketika hendak mengambil jenazah anaknya di RSCM. Kusmiati justru dimintai uang oleh pihak RS. Bahkan dia sempat dicibir karena membawa Kartu Tanda Penduduk dan kartu anggota salah satu partai politik.

“Saya bawa KTP sama kartu anggota Golkar. Ketawain karena di sana tuh banyak PDI. Waktu mau ambil anak saya, saya kena biaya, saya pegang uang cuma Rp 10.000, saya bilang saya nggak punya uang katanya buat papan sama kain kafan. Akhirnya, pihak RS mau Rp 35.000, terus baru disuruh pulang pakai mobil ambulan,” bebernya.[] Sumber: merdeka.com