Kanan adalah anak tertua Nabi Nuh as., dari empat bersaudara. Adik-adiknya bernama Yafith, Sam dan Ham. Dalam sejarah Nabi Nuh diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Nabi Adam as., dan berasal dari wilayah Armenia. Kawasan ini berada di antara Iran, Turki dan Azerbaijan, serta di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia, Asia Barat. Nabi Nuh adalah Nabi dan Rasul Allah swt., yang dikatagorikan dalam kelompok Rasul Ulul Azmi.
Beliau diutus untuk menyadarkan umatnya yang durhaka dan menyekutukan Allah. Pada zaman Nabi Nuh, banyak manusia yang tidak mau taat kepada Allah dan justru berpaling dari-Nya. Mereka terbiasa dengan menyembah patung-patung berhala yang mereka ciptakan sendiri.
Dengan sekuat tenaga, Nabi Nuh berusaha menyadarkan kaumnya yang telah tersesat jauh dari kebenaran dan terjerumus dalam perbuatan syirik. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima ajakan baik Nabi Nuh. Malah yang terjadi, Nabi Nuh dicaci maki, diejek dan ditertawakan.
Setiap kali Nabi Nuh menyampaikan peringatan dari Allah, mereka pura-pura tidak mendengar. Mereka menutup telinga rapat-rapat. Bahkan, mereka tidak segan-segan menantang Allah dengan meminta datangnya azab Allah kalau memang ajakan Nabi Nuh tersebut benar.
Nabi Nuh berdakwah sangat lama sebagaimana diungkapkan dalam Alquran adalah selama 950 tahun. Nabi Nuh berjuang menyerukan kepada kaumnya untuk kembali ke jalan yang benar, yaitu menyembah Allah. Namun, hanya sedikit orang yang mau mendengarkan seruan Nabi Nuh. Bahkan, istri dan anaknya yang bernama Kanan mendustakannya.
Nabi Nuh pun merasa lelah untuk menyadarkan kaumnya, tetapi mereka tetap tidak mau mendengarkannya. Kemudian, Nabi Nuh meminta kepada Allah untuk menurunkan azab kepada mereka. Allah pun memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk membuat sebuah kapal besar di atas gunung. Justru Nabi Nuh As dianggap gila oleh umatnya karena membuat kapal di atas gunung dan pada waktu musim panas. Dan akhirnya kapal itu selesai dibuat setelah 40 tahun lamanya.
Akirnya Nabi Nuh memerintahkan orang-orang beriman naik kapal tersebut atas perintah Allah Swt.
“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)
“Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud: 41)
Orang-orang yang beriman segera menaiki perahu, tidak ketinggalan pula burung-burung dan binatang-binatang berpasang-pasangan. Mulailah air keluar dengan deras dari celah-celah bumi. Sementara dari langit turun hujan yang sangat deras. Nabi Nuh As bersama orang-orang yang beriman di dalam perahu hanya bisa pasrah kepada Allah melihat dan menunggu detik-detik tenggelamnya bumi.
Orang-orang kafir mulai kebingungan mencari tempat perlindungan dari air yang semakin lama-semakin dalam, sebagian mereka tewas terseret arus, sebagian lain tenggelam akibat tingginya air. Saat perahu mulai berlayar, tampak Kanan, anak Nabi Nuh, tetap ingin menyelamatkan diri dengan berenang menuju puncak sebuah gunung yang belum terjamah air. Kanan yakin air tidak mungkin sampai puncak gunung. Saat air telah menutup bumi, naluri kasih sayang seorang ayah membuat Nabi Nuh berusaha keras membujuk dan merayu anaknya agar mau naik perahu bersamanya.
Kanan anakku! Naiklah ke perahu bersama kami! Janganlah kau mati bersama-sama orang yang kafir!. (QS. Hud: 42)
Kanan menjawab? Tidak Ayah! Aku akan selamat berada di puncak gunung itu. Kanan dengarkan Ayah! Tidak ada satu pun yang dapat melindungimu dari keadaan ini selain Allah Yang Maha Penyayang. (QS. Hud: 43)