SIGLI – Makanan pokok masyarakat Aceh secara umum adalah nasi. Tak heran jika mayoritas lahan di Aceh ditanami padi. Kebutuhan pokok terhadap beras dan nasi menjadikan Aceh atau Indonesia secara keseluruhan mempunyai lahan pertanian hampir di setiap daerah, termasuk di Pidie.
Nah, ternyata dalam dunia pertanian di Aceh muncul adat-adat tertentu dalam bertani. Adat tersebut rata-rata ada di setiap daerah dan memiliki ciri yang berbeda. Adat yang mulai pudar di daerah perkotaan tersebut ternyata masih dipegang erat di beberapa tempat.
Masyarakat Pidie memiliki beberapa prosesi adat dalam bertani. Mulai dari pencucian bibit atau lazim disebut 'rah bijeh' kemudian tahap penanaman atau 'seumula' dan yang terakhir 'khauri top blang' atau tahap penutupan.
Setiap tahap tersebut selalu diawali dengan acara makan bersama atau khauri. Dalam dua tahap pertama yaitu rah bijeh dan seumula, khauri tidak dilakukan secara besar-besaran. Namun saat penutupan terdapat acara makan bersama yang ditutup dengan wejangan salah satu tokoh di kampung setempat.
Adalah Gampong Leupeum Mesjid, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie yang masih melaksanakan adat pertanian di atas. Setiap regulasi adat dalam bidang pertanian tersebut diikuti oleh masayarakat atas kesadaran masing-masing.
“Nyoe adat, kon wajeb. Meninggai aneuk meupat jrat, gadoh adat hana pat ta mita,” kata Muntazar, Tengku Imum Kemukiman Leupeum ketika acara Top Balang di desa setempat, Kamis, 21 Januari, 2016.
Di akhir prosesi Top Blang tersebut Teungku Imum memberikan wejangannya terkait hidup bermasyarakat dan dalam kehidupan bertani, berkebun, dan bersosialisasi sesama masyarakat.