TERKINI
NEWS

Ketua PGRI Aceh: Saat Bangsa Terpuruk, Guru PAI Menjadi Penyejuk

Dia berharap Pendidikan Agama Islam akan mendapat perhatian khusus dan menjadi tolak ukur kelulusan siswa di Aceh.

ISKANDAR NORMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 734×

BANDA ACEH – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh, Drs. H. Ramli Rasyid, M.Si, M.Pd menyebutkan Guru Pendidikan Agama Islam digadang menjadi penyejuk ketika bangsa ini terpuruk. Hal tersebut disampaikannya dalam penutupan acara apresiasi MGMP PAI SMP dan SMA/SMK Tingkat Provinsi Aceh di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh, Kamis, 15 Oktober 2015. 

“Saat bangsa ini terpuruk di titik nadir dengan sejumlah kasus yang menyayat hati kita, guru PAI digadang sebagai obat penyejuk yang selama ini tidak digubris dan dihargai keberadaannya. Inilah akibat dari kelalaian kita tidak menempatkan GPAI sebagai panutan,” kata Ramli Rasyid melalui siaran pers yang diterima portalsatu.com.

Dia berharap Pendidikan Agama Islam akan mendapat perhatian khusus dan menjadi tolak ukur kelulusan siswa di Aceh.

“Minimal siswa harus memperoleh nilai 75, kalau tidak, mereka dinyatakan tidak naik kelas dan tidak lulus. Ini tidak main-main. Mulai tahun 2016, Aceh sudah memberlakukan “Perjanjian Langsa,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengisahkan perjuangan menempatkan guru sebagai agen perubahan dan memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kompetensi yang dimiliki guru. Hal ini dilakukannya sejak menjabat kepala sekolah di SMAN 1 Sigli Kabupaten Pidie, SMAN 7 Banda Aceh, Kadis Pendidikan Kota Banda Aceh, Pj.Sekda Kota Banda Aceh dan Asisten II Setdako.

“Jangan menuntut guru harus menguasai ini dan itu sementara yang dimaksud tersebut tidak pernah diberi penguatan dan pelatihan. Kita sayangkan pelatihan bagi guru PAI minim sekali. Fenomena aneh saat Aceh dinyatakan sebagai daerah yang punya keistimewaan khusus bidang pendidikan. Kita melihat saat guru mata pelajaran umum dilatih, guru PAI seperti tidak mendapat tempat, ini musibah bagi kita,” ujarnya.

“Saya bercita-cita, ke depan nasib guru PAI harus menjadi perhatian Pemerintah Aceh dengan menjadikan mereka sebagai kepala sekolah dan sejumlah jabatan strategis lainnya. Kita doakan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, sejumlah sekolah umum di Aceh akan menempatkan guru PAI sebagai kepala sekolah, ini sebuah penghargaan dan penuh makna,” katanya.

Dia mengatakan wadah MGMP merupakan pusat pembinaan guru yang paling strategis. Dia berharap lembaga MGMP dihidupkan dan dibina serta mendapat alokasi dana. Menurutnya kegiatan di MGMP lebih tepat dibandingkan pelatihan yang diikuti tanpa ada pembinaan yang berkelanjutan. 

“Sudah saatnya MGMP PAI ini menjadi pioneer dan contoh bagi MGMP lain, berilah perhatian yang serius kepada MGMP PAI. Saya akan meminta Kadis Pendidikan se-Aceh untuk menyediakan anggaran untuk kegiatan FKG, KKG dan MGMP PAI di Kabupaten Kota masing-masing,” katanya.[](bna)

ISKANDAR NORMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar