Beberapa waktu yang lalu, Aceh dilanda fenomena demam batu. Semua orang berbondong-bondong membicarakan satu topik, yaitu batee incin (batu cincin). Fenomena ini merambah ke segala generasi, dari yang tua hingga yang muda, dari strata sosial kelas wahid sampai pemilik ekonomi pas-pasan. Kehadiran fenomena demam batu pada akhirnya menjadi sebuah tren baru yang sangat populer. Saking populernya, lahirlah celetukan: kon aneuk Aceh meunyoe meusineuk batèe giok hana bak jaroe (bukan anak Aceh bila tak ada satu pun batu giok di jari). Celotehan tersebut setidaknya menggambarkan kepada kita demam batu giok di Aceh begitu meugiwang beberapa waktu yang lalu.

Sesungguhnya fenomena demam batu tidak hanya menjangkiti Aceh, tetapi juga mewabah hingga ke seantero nusantara. Mulai dari Sabang hingga Merauke semuanya terkena virus batu.

Sebenarnya, berbicara mengenai fenomena demam batu bukanlah sebuah fenomena baru. Fenomena ini sejak dahulu sudah ada. Hanya saja, akhir-akhir ini fenomena demam batu begitu booming dan cepat menular lantaran peran media, baik massa maupun medsos. Media berpenting menyebarluaskan virus demam batu. Umumnya masyarakat menyebutnya dengan “demam batu akik”. Cuman, khusus untuk Aceh, berbeda.  Di Aceh lebih masyhur disebut “demam batu (batèe) giok”. Hal ini lantaran batu giok merupakan jenis batu yang paling dominan diminati serta diperbincangkan. Bagi masyarakat Aceh, batu jenis giok spesial, tentu tanpa bermaksud mengesampingkan jenis batu lainnya. Semacam ada sugesti tersendiri bahwa giok itu istimewa.

Apa kabar giok?

Setiap musim ada waktunya, setiap momen memiliki kesan tersendiri. Begitu juga halnya dengan fenomena musim demam batu giok. Menyoal kabar giok Aceh hari ini terkait dengan tren demam batu, banyak tanggapan dari berbagai pihak. Bagi pemujanya, mereka akan menjawab, musim tidak musim, kami tetap pencita batu dan tak ada pengaruhnya. Jawaban seperti ini bersumber dari golongan pencinta batu tradisional, tulen, dan idealis. Ada juga yang menjawab, musim batu sudah berlalu, jadi sudah tidak trendi lagi mengenai batu-batuan. Ini jawaban dari golongan pencinta batu kemarin sore, ikut-ikutan dan terbawa arus. Juga ada jawaban, mau musim batu atau tidak, enggak ada urusan! That’s not my passion. Jelas, jawaban model begini terlontar dari masyarakat yang memang apatis terhadap fenomena demam batu. Mereka memang tidak memiliki ketertarikan terhadap batu, baik dari sisi kultural ataupun tren, bahkan cenderung acuh, tidak mau ambil pusing .

Klasifikasi tanggapan di atas memotret sedikit banyak tentang bagaimana masyarakat menanggapi fenomena demam batu giok yang melanda Aceh. Bagi golongan pencinta batu tulen yang idealis dengan hobinya, jelas fenomena  meugiwangnya demam batu menjadi semacam uroe raya rayek sekaligus kemenangan.  Sebab, eksistensi mereka mendapatkan panggung. Selama ini pencinta batu acapkali dipandang sebagai hobi kelas rendahan. Mewabahnya virus batu giok ke dalam tatanan masyarakat tanpa terkecuali, jelas semacam adanya pergeseran kesetaraan kelas sosial. Maksudnya, mulai dari yang miskin hingga yang terkaya sekalipun suka dengan batu dan memiliki batu giok. Jadi, fenomena ini dengan sendirinya mampu berkontribusi terhadap perbaikan disparitas gap kelas sosial, sekaligus pengakuan terhadap hobi pencinta batu bahwa hobi ini bukan sembarangan hobi, apalagi murahan. Bahkan pada periode demam batu begitu meucuhu, hobi ini adalah hobi mahal.

Lihatlah, betapa bervariasinya harga batu giok, mulai dari yang sineuk 100 ribu sampai yang sineuk berharga miliaran rupiah.  Sayangnya, variatifnya harga giok Aceh menimbulkan permasalahan baru. Bila di satu sisi demam batu giok mampu menyetarakan tingkatan sosial masyarakat Aceh atas nama hobi, di sisi lain malah sebaliknya. Di hadapan harga, malah menyebabkan timbulnya gap yang kentara lantaran prestise. Antara pemilik giok dan harga 100 ribu dengan pemakai giok dengan harga miliaran rupiah. Ironis memang sebab adanya paradoks mengenai persoalan tersebut.

Fenomena demam batu nyatanya memberikan dampak ke segala aspek kehidupan, mulai dari aspek sosial budaya hingga ekonomi. Dari ruang lingkup ekonomi, demam giok berhasil membuka lapangan pekerjaan baru. Efeknya, tidak sedikit pengangguran memperoleh pekerjaan demi memenuhi hajat hidupnya, entah itu sebagai pencari batu, tukang asah batu, agen batu, hingga profesi lainnya.

Balada tren batu giok jangan hanya sebatas dikotomi sebagai wadah pemuas nafsu para pencinta batu. Masyarakat yang tidak memiliki hobi batu juga seharusnya kecipratan dampaknya. Sebagai contoh, di sekitaran lapak-lapak yang menjual batu, banyak juga pedagang yang menjajankan dagangannya kepada para pemburu batu. Kita mafhum, bahwasanya shopping batu menghabiskan waktu yang lama serta energi dalam memilah dan memilih batu mana yang paling menarik perhatian untuk dibeli. Maka, kehadiran para pedagang di area lapak penjual batu memberikan kontribusi lainnya kepada pengunjung, entah itu sekadar beli air mineral, rokok, cemilan, dll. Hal ini apa yang dalam ilmu ekonomi disebut spill over. Pun demikian, pemerintah juga mendapatkan pemasukan, misalnya dari pajak sewa lapak. Bahkan beberapa waktu yang lalu sempat mencuat kabar bahwa batu akik di atas kisaran harga tertentu akan dikenakan pajak meski kemudian menguap begitu saja. Yang perlu diingat, seandainya benar diberlakukan, kebijakan tersebut berpotensi besar menjadi lumbung Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru bagi pemerintah. Cuman, persoalan ini akan lain cerita bila dibedah dari perspektif para pencinta batu. Umumnya mereka tidak setuju. Muncul celetukan bernada satir,  “Pemerintah meu bacut h’an jeut dikal?n tanyoe seunang, ateuh nama ka meucuhu chit ka laju keun?ng pajak!”

Sayangnya, kini giok Aceh tak semeugiwang dulu. Fakta di lapangan menunjukkan, daya beli masyarakat kita terhadap batu giok ataupun akik merosot tajam. Ketua Gabungan Pencinta Batu Alam (GAPBA), Nazaruddin, mengatakan, daya serap pembeli terhadap batu akik kini hanya berkisar 2% (Tempo, 6/7/2015). Tidak sedikit pengusaha batu gulung tikar, tentu ini berdampak bagi lainnya, yaitu pencari batu, pengepul, hingga tukang asah batu. Mata rantai perekonomian yang bergelut di bidang batu giok mengalami guncangan hebat.

Tren giok, betapa pun seseksi apa pun daya pikatnya, fenomena demam batu  beberapa waktu yang lalu tetaplah sebuah tren yang memiliki siklusnya tersendiri, kadang redup, kadang pula mencuat. Bulan madu fenomena demam batu akhirnya harus menikmati kenyataan bahwa kini meredup. Siklus yang memang biasa, pasang surut dalam fenomena tren. Realitas pahit ini sungguh menyesakkan dada bagi para pelakonnya. Dari segenap fenomena dan persoalan yang ada, nyatanya kita dapat belajar bahwasanya giok Aceh pernah meugiwang gemilang, tidak hanya di level lokal, tetapi juga nasional, bahkan dunia. Giok Aceh tidak hanya sebatas batu, tetapi juga mampu memberikan sumbangsih lainnya bagi Aceh. Giok Aceh juga menjadi ikon yang mampu membuat Aceh lebih dikenal khalayak ramai di seantero negeri. Ia juga menjadi oase dalam hal eksistensi sebab selama ini lazimnya Aceh lebih sering dikenal dengan konfliknya, syariat Islam, hingga tsunami. Fenomena batu giok kemarin waktu telah berhasil memberikan citra Aceh lainnya, bahwa Aceh adalah salah satu daerah penghasil batu mentereng dengan kualitas dunia. Nyanban![]

Penulis: Ichsan Maulana, mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Syiah Kuala.

Email: ichsanmaulana.icm@gmail.com