ACEH, juga dieja Acheh, Achin (Aceh) merupakan sebuah daerah yang terletak di ujung utara pulau Sumatera. Kawasan ini dulunya beribukota Bandar Aceh Darussalam. Ketika Belanda menyerang Aceh pada 1873-1942, nama ibu kota diganti dengan Kuta Raja.
Penduduk Aceh pada tahun 1898 diperkirakan mencapai 535.432 jiwa. Jumlah ini terdiri dari 328 orang Eropa, Cina 3.933 jiwa, 30 Arab, dan 372 orang Asia asing lainnya.
Kereta api merupakan salah satu moda transportasi penghubung antara Pelabuhan Ulee Lheue dengan ibukota yang kemudian meluas ke lembah Aceh Besar. Sementara ekspor barang potensial saat itu adalah lada. Pada masanya, Aceh juga memiliki industri penting di kawasan seperti membuat senjata, kerajinan emas, tenun sutera, dan membuat tembikar. Sumber mata pencaharian hidup masyarakat Aceh juga bertumpu pada pertanian, nelayan, dan perdagangan.
Mayoritas warga Aceh merupakan rumpun Melayu, tetapi perilaku dan budayanya sedikit berbeda dari Melayu kebanyakan. Dominan warga Aceh menganggap dirinya berasal dari campuran keturunan Arab, Cina, Eropa, dan India.
Hal ini juga terlihat dari perbedaan budaya dan bahasa yang dipergunakan warga Aceh, baik di pesisir maupun di dataran tinggi. Namun, orang Aceh menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa kedua dalam kehidupan sehari-harinya. Hal itu berlaku hingga sekarang.
Fase Pemerintahan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam
Ketika menyebut Aceh masa lalu jangan membayangkan situasi daerah tersebut saat ini yang memiliki geografis seluas 5.677.081 ha. Aceh sekarang hanya terbatas dari Pulau Weh (Sabang) hingga Aceh Tamiang. Namun, Aceh masa lalu memiliki teritorial yang begitu luas. Bahkan turut “merangkul” semua kerajaan-kerajaan di sekitarnya seperti kerajaan-kerajaan di Sumatera, sebagian Jawa, Melayu Johor, Pahang, Kedah dan Perak. Aceh juga berwenang mengkoordinir kerajaan vasal Turki yang ada di semenanjung Melayu hingga wilayah Austronesia.
Sebagai ilustrasi pembaca dapat menyimak ideo peran kedua fase kerajaan terbesar di Sumatera tersebut. Pertama, Kerajaan Samudra Pasai dari tahun 1297. Kemudian pemerintah beralih ke Kerajaan Aceh Darussalam dari tahun 1530 sampai 1945. Namun kejayaan Aceh itu sirna usai perang berkepanjangan dengan Belanda, dan dilanjutkan dengan Jepang. Hingga akhirnya Aceh hanya menjadi sebidang tanah di sebelah utara pulau Sumatera yang sedang mengalami kemunduran dan berada di bawah kontrol Republik Indonesia.
Reputasi Aceh sebagai daerah perdagangan telah dikenal masyarakat luas pada abad 14 hingga abad 19. Fakta tersebut dapat dilihat dari upaya Belanda (1599) dan Inggris (1602) saat berlayar ke Hindia Timur pada masa itu.
Sir James Lancaster, memerintahkan pelayaran pertama East India Company pada tahun 1601. Utusan tersebut membawa surat dari Ratu Elizabeth ke raja Aceh, dan diterima dengan baik oleh pemerintah Aceh pada masa itu. Raja Aceh menjawab upaya diplomasi tersebut dengan mengirimkan surat balasan. Namun Ratu Elizabeth meninggal saat surat tersebut sampai di London.
Surat jawaban dari Sultan Aceh ini kemudian diterima oleh Raja James I dan VI selaku pengganti Elizabeth. Kemudian Raja James I melanjutkan upaya diplomasi perdagangan dua negara dengan Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh pada tahun 1613.
Tak hanya Inggris, Prancis kemudian juga ikut menjalin hubungan dengan Aceh pada tahun 1621.
Penjelajah dari berbagai belahan dunia juga tercatat pernah singgah di Aceh dengan misi menjalin hubungan dagang. Mereka di antaranya berkebangsaan Inggris, Belanda, Denmark, dan Portugal. Penjelajah paling menonjol adalah para pedagang asal China yang bertahan sampai sekarang, dan fasih berbahasa Aceh.[] sumber diterjemahkan dari tulisan @vannour/steemit.com