MATA Hanifuddin berkaca-kaca saat dewan hakim membacakan pemenang Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) keluarga di Masjid Agung Ruhama Takengon, Rabu 14 Oktober 2015.
Ia adalah kepala rumah tangga asal Desa Pantan Reduk, Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Pria yang biasa disapa Teungku Hanifuddin ini berhasil merebut terbaik satu dalam ajang MTQ keluarga yang digagas pemerintah Aceh Tengah itu.
Ia terlihat tak kuat menahan tangis. Hanifuddin mengakuy terharu. Dengan paras wajah lugu, ia duduk merunduk. Sesekali matanya tajam menelisik anak-isteri yang duduk berdampingan. Dengan bibir gemetar, Teungku Hanifuddin terlihat hendak mengatakan sesuatu pada mereka (anak-istri). Satu hasrat yang telah lama terpendam.
Dengan pekerjaan yang ditekuninya sebagai petani tanaman muda, Hanifuddin tak menyangka dapat memboyong anak dan isterinya ke tanah suci Mekkah Al-Mukarramah.
Berkah keikhlasannya mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak di pedalaman sana, mimpi Teungku Hanifuddin kini terwujud. Dia dianugerahkan hadiah besar. Ia mendapat penghargaan umrah gratis dari pemerintah Aceh Tengah setelah dewan juri MTQ keluarga menobatkan keluarganya sebagai juara satu dalam kegiatan pertama di dunia itu.
“Isteri saya namanya Nurjannah, pekerjaannya ibu rumah tangga dan juga ikut membantu saya di kebun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” kata Teungku Hanif, begitu sapaan akrabnya-kepada portalsatu.com saat dijumpai usai penyerahan penghargaan di Masjid Ruhama Takengon, Rabu 14 Oktober 2015.
Tak ada yang terlihat istimewa saat keluarga kecil itu tampil di depan setengah ribu tamu dari berbagai kalangan untuk menyabet juara. Pakaian mereka sederhana.
Keseharian Teungku Hanif, selain bercocok tanam, Ia juga mengajar ilmu agama. Meski rumah alakadar, tapi Hanid telah memiliki balai pengajian berkonstruksi kayu-untuk membuka mata anak bangsa soal pentingnya ilmu agama di pelosok sana.
Balai itu Ia beri nama Baitul Mukmin. Di sela kesibukannya mencari nafkah di kebun, Teungku Hanif menyisihkan waktu untuk mereka (anak-red).
Pria kelahiran Lampung, Provinsi Lampung 1974 itu berkeyakinan Ahlussunnah Waljama'ah. Ia hijrah ke Aceh Tengah tahun 1995. Dan pada tahun 1997, Ia menikahi Nurjannah, gadis kelahiran 1979 Cilacap, Jawa Tengah.
Dari hasil perkawinannya, mereka dianugrahi empat orang anak. Dua putra dan dua putri. Mereka adalah M. Zulham, Ummu Hafsah, Farid Abdul Hakim, dan Si bungsu mungil bernama Ummi Hadnan Damiyah.
Farid Abdul Hakim, anak ketiga Teungku Hanif, meraih juara satu cabang hafif tahfiz I juz kategori putra di MTQ tingkat kabupaten Aceh Tengah. Ia juga perwakilan Aceh Tengah cabag Tahfiz I Juz dan Tilawah ke MTQ Aceh ke-XXXII di Kabupaten Nagan Raya beberapa waktu lalu.
Sementara Ummul Hafsah, juga pernah menyabet juara I Tahfiz I Juz kategori putri tingkat Kabupaten Aceh Tengah. Putri keduanya ini juga dipercayakan sebagai perwakilan Aceh Tengah di MTQ Aceh ke-XXXI yang digelar di Kota Subulussalam pada tahun 2013 lalu.
“Saya mulai mengajar Alquran dan kitab-kitab itu tahun 1995, atau tidak lama saya tiba di Aceh Tengah ini. Murid aktif balai kita sekarang sekitar 30-an santri,” kata Hanif. [] (MAL)