TERKINI
PROFIL

Kepribadian dalam Perspektif Ilmuwan

DALAM hidup di muka bumi ini. Kita mengetahui bahwa anak merupakan amanah Allah SWT yang harus dijaga dan dibina, hatinya yang suci adalah permata yang sangat…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.8K×

DALAM hidup di muka bumi ini. Kita mengetahui bahwa anak merupakan amanah Allah SWT yang harus dijaga dan dibina, hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan seperti dibiarkannya binatang, ia akan celaka dan binasa. Sedangkan memeliharanya adalah dengan membentuk kepribadian yang mulia pada jati diri si anak semenjak ia kecil. Oleh karena itu orang tualah yang memegang faktor kunci yang bisa menjadikan anak tumbuh dengan jiwa Islami.

Setiap orang tua berusaha menanamkan kepada anggota keluarga, khususnya anak mengenai jati diri, suatu tingkatan akhlak dan perilaku tertentu, serta mengajarkan mereka keahlian-keahlian dalam berbagai bidang keilmuan dan ketrampilan praktis. Perkembangan jasmani dan rohani anak terbentuknya kepribadian yang utama. Setiap orang tua berusaha untuk membentuk anaknyadengan corak yang dapat mewujudkan kebaikan bagi dirinya, dan masyarakat.

Allah SWT telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Kita mengetahui bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kekhususan sendiri yang membedakan individu satu dengan individu lainnya, kekhususan itu berupa kepribadiannya. Meskipun demikian, kepribadian adalah suatu kosep yang sulit untuk dimengerti, meskipun istilah ini digunakan dalam bahasa sehari-hari. Agar dapat memberikan gambaran mengenai batasan atau definisi tentang kepribadian secara tepat dan jelas, maka pengertian kepribadian dapat ditinjau dari dua segi, pertama, secara etimologi.

Menurut asal katanya kepribadian atau personality berasal dari bahasa Latin personare, yang berarti masker atau topeng, perlengkapan yang selalu dipakai dalam pentas drama-drama Yunani Kuno. Istilah ini kemudian diadopsi oleh orang-orang Romawi  untuk memainkan perannya dalam sandiwara yang dimainkan.

Dari sini katapersonality berubah menjadi satu istilah yang mengacu kepada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok atau masyarakatnya, dan diharapka individu tersebut bertinggkah laku atau sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterimanya itu.Kini para ahli psikologi menggunakan kata personality untuk menunjukkan sesuatu yang nyata dan dapat dipercaya tentang individu untuk menggambarkan bagaimana dan apa sebenarnyaindividu.

Kedua, secara terminologi, berdasarkan dari konsep yang sulit dimengerti, para ahli psikologi atau pun para ahli disiplin ilmu lainnya mendefinisikan kepribadian menurut kapabilitaskeilmuan masing-masing. Di antaranya adalah sebagai berikut: Pertama, Agus Sujanto dalam bukunya Psikologi Kepribadian mengutip pendapat Gordon W. Allport:“Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system, that determines his unique adjusment to his environment”. Artinya Personaliti itu adalah suatu organisasi dinamis dari sistemsistem psikologis dalam diri seseorang yang menyebabkan (menentukan) ia dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. 

  • , W. Stern yang dikutip dari buku Psikologi Umum karya Agus Sujanto: Pribadi terdiri dari bagian-bagian. Bagian-bagian itu masing-masing adala suatu kesatuan yang bulat, yangsemuanya bekerjasama secara organis. Ketiga, Sedangkan Sigmund Freud seperti yang yang dikutip Koeswara memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem, yakni idego dan superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kepribadian tersebut.

Berdasarkan paparan diatas dapat dikatakan bahwa kepribadian pada dasarnya adalah sesuatu yang unik yang hanya dimiliki oleh individu secara pribadi yang membedakan individu satu dengan individu lainnya. Sedangkan pembentukan kepribadian sebagaimana diungkapkan oleh Al Ashqar adalah sebagai berikut:

“Pembentukan kepribadian pada dasarnya adalah upaya untuk mengubah sikap ke arah kecenderungan terhadap nilai-nilai keislaman. Perubahan sikap tidak terjadi secara spontan, tetapi di antaranya disebabkan oleh adanya hubungan dengan obyek, wawasan, peristiwa atau ide (attitude have referent) dan perubahan sikap yang harus dipelajari (attitude are learned)”.

Pembentukan kepribadian berlangsung secara berangsur-angsur, bukan hal yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang. Jika perkembangan itu berlangsung dengan baik maka akan menghasilkan suatu kepribadian yang harmonis, yaitu keseimbangan segala aspek-aspekdan tenaga-tenaga yang sesuai dengan kebutuhan.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar