JANTHO Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah mengajak masyarakat untuk melestarikan adat dan budaya Aceh sehingga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial antara masyarakat dan juga meningkatkan ketaqwaaan kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Keistimewaan, Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Aceh, Zulkifli HS saat menghadiri acara kenduri laot yang dilaksanakan masyarakat Lampanah Leungah, Kecamatan Seulimum, Kamis (22/9).
Masyarakat Aceh memiliki kekayaan budaya dan adat yang terus kita pertahankan secara turun temurun hingga sekarang, ujar Zaini, dalam siaran pers.
Kenduri laot kata Zaini merupakan tradisi yang sudah turun temurun dan sudah ada sejak dulu di Aceh. Budaya tersebut adalah manifestasi dari rasa syukur atas rahmat dari Allah SWT yang dituangkan dalam sebuah tradisi adat melalui kenduri laot yang dilaksanakan setahun sekali ini.
Zaini mengatakan, selain untuk memperkuat harmonisasi sosial bagi sesama masyarakat nelayan di wilayah ini, kenduri Laot dapat pula dijadikan sebagai sarana untuk mensosialisasikan kembali aturan/hukum kelautan yang telah digariskan oleh Endatu (nenek moyang).
Keberadaan panglima laot misalnya, sudah ada di Aceh sejak ratusan tahun lalu. Panglima Laot adalah pemimpin masyarakat untuk urusan kelautan, ujar Zaini.
Zaini Abdullah menjelaskan, sejak lahirnya Undang Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, posisi lembaga adat seperti Panglima Laot, kembali mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat.
Peran lembaga Panglima Laot di kalangan nelayan Aceh terus menguat, terutama dalam hal memimpin persekutuan adat dan pengelola hukum adat di wilayah laot, ujar Zaini.