BANDA ACEH – Kembalinya seniman Aceh Herman Abas kepada Sang Khalik pada Minggu, 29 Januari 2017 menyisakan duka dan kenangan sesama pegiat seni di Aceh. Salah satunya musisi senior Aceh Moritza Thaher atau kerap disapa Momo.
Di mata Momo, almarhum yang dikenal sebagai seorang musisi sekaligus pengajar, memiliki rasa humoris yang tinggi bila bergaul namun sangat disiplin serta serius dalam menekuni bidangnya.
Dalam bermusik Herman sangat serius dan disiplin, tapi dalam bergaul dia sangat humoris. Herman seorang pengajar yang baik dan sangat suka belajar. Dia juga pernah melatih drum band, vokal, gitar. Dia sangat mencintai musik Aceh dan dia mencintai jazz, dia mengawinkan kedua hal tersebut, kata Momo, Senin, 30 Januari 2017.
Momo sudah mengenal almarhum sejak masih SMA. Mereka berdua juga pernah menjadi satu tim pada organisasi sekolah serta grup band.
Saya satu sekolah dengan Herman, waktu saya menjadi ketua OSIS di SMAN 1 Lhokseumawe tahun 1985, Herman Ketua Seksi Musiknya. Lalu bersama-sama kami membentuk vokal group dan kemudian membentuk group band sewaktu di SMA, bersama Muko (keyboard), Firmanda (drum) Herman pada gitar dan saya pada bass, kata Momo.
Momo mengakui, almarhum Herman Abas sudah memiliki talenta yang luar biasa di bidang musik sejak dari SMA.