LHOKSUKON Jasanya di masa lalu seolah hilang ditelan bumi. Para petinggi Aceh Merdeka (AM) yang dulu seperjuangan, kini hanya memandangnya sebelah mata. Ia hanya dianggap angin yang berhembus sepintas lalu.
Namanya Mohammad Yusuf Abdullah atau dikenal Panglima Moja. Usianya terbilang sudah lanjut, yaitu 64 tahun. Kepada portalsatu.com, dia menceritakan bagaimana kehidupannya selama ini. Termasuk dikecewakan para petinggi Aceh Merdeka.
Thon 2014 nyang ka u liket, wate Doto geuduk keu Gubernur Aceh, loen jiehei u Banda Aceh. Lam masa nyan tingat that, loen geuyu jak u Pendopo. Di sinan loen jie peturi bak bawahan Doto (pejabat pemerintahan), bahwasanya loen nyoe rakan seperjuangan jameun. Bagi loen nyan keun hai nyang membanggakan (Tahun 2014 silam, saat Doto (Dr. Zaini Abdullah) menjabat sebagai Gubernur Aceh, saya dipanggil ke Banda Aceh. Saat itu sangat membekas dalam ingatan, saya disuruh datang ke Pendopo. Di situ saya dikenalkan kepada bawahannya, bahwa saya itu teman seperjuangan dulu. Bagi saya itu bukan hal yang membanggakan), kisah Panglima Moja ketika ditemui di rumah kakak kandungnya di Gampong Ulee Buket, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Minggu, 5 Februari 2017.
Dalam pertemuan tersebut, Zaini Abdullah yang akrab disapa Doto Zaini, menanyakan kondisi Panglima Moja. Saat itu pula Panglima Moja mengatakan tinggal di Meunasah karena tidak memiliki rumah. Dia mengaku, mantan Menteri Kesehatan GAM itu sempat memanggil ajudannya untuk memberikan bantuan rumah kepada Panglima Moja.
“Na jihei ajudan wate nyan, dipeugah diyue bie rumoh keu loen tapi sampo inohat hana meupat rumoh nyan. Wate loen neuk gisa u gampong, dibie peng Rp500 ribe. Sebenar jih hana loen neuk terimoeng, tapi kiban tapeugeut teuman. Peng tajak u Banda pih na abeh meu Rp2 juta (Ada dipanggil ajudan atau tangan kanannya kala itu, katanya disuruh berikan rumah kepada saya, tapi sampai detik ini tidak tahu di mana keberadaan rumah itu. Waktu saya hendak pulang ke kampung, dikasih uang Rp 500 ribu. Sebenarnya tidak ingin saya terima, tapi mau bagaimana lagi. Uang yang habis untuk pergi ke Banda saja mencapai Rp 2 juta), ujar Panglima Moja.
Zaini Abdullah kembali memanggil Panglima Moja melalui seorang teman di Geudong Kecamatan Samudera pada akhir 2016. Teman yang dimaksud adalah Teungku Jamil. Kepada Teungku Jamil, Doto Zaini berpesan agar Panglima Moja menghadapnya di Banda Aceh.
Pesan nyan hana loen peuremeun, ka sep oh ata awai manteung. Nomboi telpon loen manteung hana bak Doto. Teungku Jamil nyan dari jameun cukop perhatian keu loen, gob nyan ken anggota AM, tapi le thai geubantu perjuangan awai. Sampo inohat gob nyan manteung perhatian keuloen, tapi gob nyan pih hanjeut geubantu, sabab gob nyan pih gasien that (Pesan itu tidak saya tanggapi, sudah cukup punya lalu. Nomor telpon saya saja tidak ada sama Doto. Teungku Jamil itu dari dulu sangat memperhatikan saya, beliau memang bukan anggota AM, tapi banyak sekali membantu perjuangan di sama lalu. Sampai detik ini beliau sangat mempedulikan saya, tapi beliau tidak bisa membantu banyak, karena beliau pun sangat miskin), kata Panglima Moja.
Mantan kombatan GAM era 70-an ini juga memiliki kisah mengecewakan dengan Muzakir Manaf. Tepatnya pada tahun 2015. Saat itu dia bertemu dengan mantan Panglima GAM itu secara kebetulan di acara HUT Partai Gerindra, di Banda Aceh.
Saat itu, Muzakir Manaf sedang melayani wartawan untuk wawancara. Namun, wawancara itu berlangsung lama sehingga ia tak sabar menunggu.
“Sabab treb that, loen petoe loen peugah, Mualem, loen neuk peugah haba siat. Dijaweb, tengeh sibok (Karena terlalu lama, saya dekati dan saya katakan, Mualem, saya igin bicara sebentar. Dijawab, sedang sibuk), kenang Panglima Moja.