BANDA ACEH – Kebutuhan konsumsen garam di Indonesia terbilang tinggi, khususnya pada bidang industri. Bahkan negara ini menduduki peringkat keempat di dunia setelah Cina, India, dan Australia.
Hal itu disampaikan oleh Ir Freude TP Hutahaean Msi, salah satu pejabat di Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mewakili Direktur Jasa Kelautan dalam seminar Eksplorasi Kekayaan Maritim Aceh Di Era Globalisasi dalam Mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia, yang digelar di Universitas Serambi Mekkah (USM), Kamis, 24 Agustus 2017.
“Konsumsi garam di Indonesia satu tahun 3 kg per orang. Keperluan untuk konsumsi sebanyak 200.000-an ton, namun kebutuhan paling besar ada pada industri,” kata Freude memberikan materi yang menggantikan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti yang semula dijadwalkan akan hadir ke acara tersebut.
Meskipun Indonesia dikelilingi lautan, namun produksi garam yang mampu dihasilkan 700.000 ton garam per tahun, dijelaskan pejabat di Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak mampu menjadikan negara ini sebagai swamsembada garam.
“Pertanyaannya, kenapa Indonesia tidak mampu swasembada garam? Tidak semua wilayah pantai bisa memproduksi garam. Kondisi cuaca yang berbeda dan berubah-ubah membuat produksi garam tidak maksimal,” jelas Freude.