TERKINI
TEUNGKU MENJAWAB

Kebangkitan Badut Ujung Tamiang

“AWAS! Awas! Awas!” seru Yusriono sembari menahan pelepah nipah yang menghalangi pandangannya. Perahu kian merapat ke pepohonan muara dan semakin miring ke kanan karena semua…

RISMAN A RACHMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1K×

“AWAS! Awas! Awas!” seru Yusriono sembari menahan pelepah nipah yang menghalangi pandangannya. Perahu kian merapat ke pepohonan muara dan semakin miring ke kanan karena semua awak berdiri di sisi yang sama.

Kemudian dia berseru, “Duri! Duri! Duri!”

Saya, yang berada di belakangnya, segera menungging di lantai perahu demi menghindari cabang-cabang berduri tadi.  Perahu melaju perlahan sementara para awak lain bergegas mengambil sangkar perangkap yang telah dipasang di dasar muara beberapa jam lalu. Yusriono melepas pelepah nipah yang ditahannya, pada saat yang sama saya bangkit sembari merasa kedamaian telah kembali—tanpa tahu apa yang dilakukan lelaki itu.

Akibatnya… Sreeeeeeeet wushhh!  

Saya hanya memejamkan mata. Pelepah nipah yang menyimpan kuasa pegas tadi nyaris menggaplok muka saya. Itu cerita kenangan saya bersama Yusriono setahun silam.

Yusriono berdiri di haluan dengan topi rimba, merupakan Ketua Yayasan Satucita Lestari. Sementara Joko Guntoro yang bertopi bisbol, merupakan pendiri dan peneliti tuntong laut, duduk di buritan yang memekakkan. Keduanya mengenakan pelantang telinga dan memegang radio transmiter untuk melacak keberadaan tuntong laut (Batagur borneoensis), warga setempat akrab menyebutnya tuntung laut. Mata mereka menerawang jauh, sementara tangan memutar-mutar kenop pelacak gelombang. Mereka sedang menyurvei populasi tuntong di kawasan lestari hutan mangrove di Ujung Tamiang, Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang.

Pesisir Ujung Tamiang termasuk dalam kawasan wisata perairan atau wisata alam dalam tata ruang Kabupaten Aceh Tamiang. Yayasan Satucita Lestari turut berupaya melindungi kelestariannya. Mereka mengajukan semacam peraturan perlindungan spesies tuntong laut agar terlindungi secara lokal. Harapannya, spesies itu dapat dilestarikan dengan sempurna.

Tuntong laut merupakan salah satu spesies kura-kura air tawar dan darat dari 29 spesies kura-kura yang ada di Indonesia. Keluarga tuntong memiliki dua spesies, tuntong laut dan tuntong sungai. Warnanya secara dominan warna cokelat muda.

Tuntong laut dan tuntong sungai memiliki habitat yang sama, yaitu hutan mangrove. Namun, tempat bertelur mereka berbeda. Tuntong sungai, saat musim bertelur bergerak ke tepian berpasir di hulu sungai. Sedangkan tuntong laut memiliki tempat bertelur sama dengan penyu, yaitu pantai pasir di laut. Secara habitat dan perilakunya di alam, sebenarnya keduanya masih misteri karena masih belum banyak penelitian untuk menyelidiki spesies ini—bahkan di Indonesia. Perilakunya masih misterius.

“Metode terkini yang dilakukan adalah studi telemetri,” ujar Joko Guntoro ketika kami berbincang dalam keteduhan hutan mangrove di halaman mercusuar. “Setidaknya studi itu bisa menjawab pertanyaan: Setelah pelepasan, apakah tukik bisa bertahan hidup atau tidak? Jadi itu semacam alat evaluasi program bagi kita sendiri.”

Studi telemetri ini baru bermula saat pelepasan 20 tukik tuntong laut pada akhir 2015, demikian ungkap Joko. Tiga diantaranya diberi alat transmisi yang memancarkan sinyal dengan interval setiap sepuluh detik. Selama Januari hingga Maret, tukik-tukik itu masih terdeteksi. Namun semenjak itu belum terdeteksi kembali. “Kalau pada radius sampai 20 kilometer kita tidak menemukan sinyal,” ujar Joko, “berarti kita harus memperluas pencarian.”

Sinyal yang dipancarkan transmiter tukik akan hilang dengan sendirnya setelah dua tahun. Artinya, para pelestari harus tetap mencari sinyal itu sebelum sinyal pupus. Apabila sinyal terdeteksi hidup namun tidak berpindah-pindah berarti tukiknya mati. Apakah tukik mati atau transmiter terlepas? Para pelestari harus membuktikan dengan menyelam ke dasar sungai untuk mencari spesimennya.

Joko menambahkan, terdapat beberapa metode untuk memantau tukik: metode penandaan dengan memberi tanda dengan memberi coakan pada karapas, metode telemetri dengan transmitter, dan yang paling sederhana adalah metode keping cip.  

“Tuntong laut memiliki peran yang sama seperti kura-kura,” kata Joko Guntoro, yang memprakarsai pelestarian tuntong laut sejak 2009. Awalnya, dia melakukan studi pendahuluan untuk melacak apakah kawasan ini terdapat spesies tuntong atau tidak. Setelah terbukti barulah mereka melakukan upaya konservasi.  Dia melanjutkan, tuntong memiliki zat nutrisi gizi yang dibutuhkan ekosistem sungai. Satwa ini makan akar-akar bakau, buah-buah bakau. Kotoran yang dibuangnya akan menjadi zat nutrisi bagi segala yang ada di ekosistem sungai—misal ikan dan kepiting.

“Tetapi,” sambung Joko, “memang akan sulit ketika kita harus menjawab seberapa besar.” Alasan utamanya adalah populasi tuntong yang sedikit. Ketika populasi sedikit kemudian kita menguji peranannya terhadap ekosistem yang begitu besar, paparnya, pasti hasilnya akan kecil. Hasil akan berbeda apabila ukuran populasi yang digunakan juga berbeda. “Kita belum pernah melakukan studi populasi tentang seberapa penting spesies ini berkontribusi pada ekosistem,” cetusnya. “Tetapi, kita tahu bahwa dia berperan.”[] selengkapnya baca: national geographic

RISMAN A RACHMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar