TERKINI
BAHASA

Keacehan atau Ke-Acehan?

Bila berpedoman pada aturan ejaan, penulisan seperti itu salah sebab huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 3.8K×

Dalam Ejaan yang Disempurnakan ada aturan mengenai penulisan nama geografi. Disebutkan bahwa nama geografi harus ditulis dengan huruf kapital, misalnya Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi Dieng, Gunung Semeru, Jalan Diponegoro, Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah Baliem, Ngarai Sianok, Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok, Tanjung Harapan, Teluk Benggala, Terusan Suez.

Begitu pula ada aturan bahwa huruf kapital digunakan pada nama bangsa, suku, dan bahasa, seperti bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris. Aturan penulisannya sama dengan penulisan nama hari, bulan, dan tahun misalnya tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal.

Berkaitan dengan aturan penulisan huruf kapital yang saya sebutkan di atas, faktanya ada orang menulis seperti berikut: berlayar ke teluk, mandi di laut, menyeberangi selat, pergi ke arah tenggara.

Secara ejaan penulisan seperti itu salah sebab teluk, kali, selat, dan tenggara adalah bentuk geografi, tetapi bukan nama geografi. Dalam ejaan disebutkan bahwa bila istilah geografi bukanlah unsur nama diri, istilah tersebut tidak ditulis dengan huruf kapital, tetapi huruf kecil. Artinya, apabila istilah geografi itu diikuti oleh unsur nama diri, penulisannya harus dengan kapital, misalnya berlayar ke Teluk Sinabang, mandi di Laut Pasi Saka, Aceh Jaya, menyeberangi Selat Malaka.

Selain itu, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis, misalnya garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon.  Maka, tidak benar jika penulisannya seperti ini, garam Inggris, gula Jawa, kacang Bogor.

Lalu, berkaitan dengan penulisan nama bangsa, suku, dan bahasa, sering orang menulis seperti ini, meng-Indonesiakan kata asing, ke-Inggris-Inggrisan (nama bangsa dan imbuhan dipisahkan oleh tanda hubung).

Bila berpedoman pada aturan ejaan, penulisan seperti itu salah sebab huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan. Yang dimaksud dengan kata turunan adalah kata yang tidak lagi dalam bentuk kata dasar, tetapi telah dilekati imbuhan.

Maka, bila hendak menuliskan nama bangsa, suku, dan bahasa yang telah menjadi kata turunan, tulisan dengan huruf kecil semua tanpa membubuhkan tanda hubung: mengindonesiakan kata asing, keinggris-inggrisan.

Atas dasar itu pula, kata Aceh bila digunakan sebagai kata dasar, bukan dalam bentuk kata turunan, haruslah diawali penulisannya dengan huruf kapital. Namun, bila dalam bentuk kata turunan penulisannya harus dengan huruf kecil, bukan kapital. Maka, bentuk yang benar adalah keacehan, bukan ke-Acehan.[]

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar