TAKENGON – Kabid Pengembangan Sumber Daya Kesehatan (PSDK) dan Kefarmasian Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr. Amri Kiflan, M.Kes., mengatakan, angka kematian ibu hamil dan bayi di Aceh masih memprihatinkan meski angkanya menurun dari tahun sebelumnya.
Tahun 2015 ini, kata Amri Kiflan, telah terjadi 80 kasus kematian ibu hamil. Sementara tahun 2014 sebanyak 149 kasus.
“Kasus ini terjadi penurunan yang cukup tajam, namun kasus kematian ibu hamil dan bayi terus kita tekan,” katanya kepada portalsatu.com saat ia berkunjung ke Takengon, Kamis 22 oktober 2015.
Penyebab kematian ibu hamil, kata Amri Kiflan, karena terjadinya pendarahan hebat sebelum atau sesudah melahirkan. Kata dia, sebagian ibu hamil juga mengalami penyakit kejang hamil dan kurang gizi.
“Kurang gizi ini bahaya, kalau ibunya tidak hamil, maka akan berimbas pada kematian bayi, dan jika bayinya pun selamat, maka akan berimbas pada kesehatan bayi seperti cacat mental, fisik atau bahkan jiwa. Solusinya ya harus ada pengadaan gizi yang cukup,” katanya.
Di sisi lain, menurut Amri, banyak ibu hamil yang melakukan persalinan secara tradisional seperti menggunakan jasa dukun.
Amri menyebut angka kematian ibu hamil terbanyak berada di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Tengah masing-masing empat kasus. Berikutnya, Kota Banda Aceh tiga kasus.
“Kasus itu kerap terjadi di daerah yang jumlah penduduknya lebih banyak. Namun kenapa Banda Aceh lebih sedikit? Karena pelayanan kesehatan di pusat provinsi sudah membaik dan maksimal, sehingga penanganan medis dilakukan dengan cepat,” ujar Amri kiflan.
Masih banyaknya angka kematian bayi, lanjutnya, juga perlu perhatian serius dari semua kalangan masyarakat. Secara keseluruhan angka kematian bayi di Aceh per September 2015 capai 592 kasus. Angka itu sedikit mengalami penurunan dari tahun 2014 dengan jumlah kasus 1.400 lebih.
Penyebab kematian bayi, kata Amri Kiflan, karena gagalnya akses pernapasan yang diakibatkan oleh lambanya pelayanan persalinannya.
Angka kematian bayi tertinggi di Kabupaten Aceh Timur dengan jumlah 28 kasus, disusul Aceh Tengah 35 kasus. Berikutnya, Banda Aceh 8 kasus.
“Berat badan lahir rendah atau BBLR ) juga mengalami resiko kematian bayi yang tinggi, dan jikapun hidup bayinya, maka besar kemungkinan mengalami gangguan fisik dan menta,” katanya.
Kasu kematian ibu hamil dan bayi, kata Amri kiflan, menjadi miris jika dibandingkan dengan jumlah tenaga bidan di Aceh capai 7.900 orang.
“Sistim rujukan berjenjang harus diperbaiki, dan penanganan medis ibu hamil harus diprioritaskan. Ini mungkin yang harus dilaksanakan oleh setiap Puskesmas dan rumah sakit daerah untuk menekan kasus itu,” ujar Amri.[]