BANDA ACEH – Kepala Dinas Syariat Islam (SI) Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, M.A., mengatakan, perempuan memainkan peran penting dalam sejarah pembangunan Aceh. Ia menyampaikan itu ketika menjadi narasumber Konferensi Internasional Diplomatic Tour on the Progress of Women Empowerment and Child Protection in Aceh di Hotel Hermes, Banda Aceh, Jumat, 4 November 2016.
Menurut Syahrizal Abbas, perempuan Aceh dalam sejarah memainkan peran penting dalam mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan masyarakat. “Buktinya sejarah menunjukkan bahwa Kerajaan Aceh pernah dipimpin oleh beberapa raja perempuan selama 53 tahun berturut-turut. Yaitu pada masa kepimimpinan Sultanah Safiyatuddin Syah, Sultanah Zakiyatuddin Syah, Sultanah Kamalatsyah, dan Sultanah Inayat Syah”.
Masyarakat Aceh dari dulu mengganggap perempuan punya status yang sama dengan laki-laki, sehingga semua peran dalam urusan publik dapat dinikmati oleh perempuan seperti pendidikan dan perdagangan, ujar Syahrizal.
Perempuan Aceh, kata Syahrizal, juga dibenarkan mengikuti pendidikan tinggi dalam berbagai bidang, termasuk bidang keagamaan. Bahkan pada masa lalu terdapat beberapa ulama Aceh yang terdiri dari kaum perempuan. Di antaranya, kata dia, Tgk. Fakinah dan Tgk. Pocut Meurah Inseun.
Di Aceh kita juga mengenal beberapa panglima perang perempuan yang mashyur. Di antaranya, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan Laksamana Malahayati, katanya.
Syahrizal mengatakan, di berbagai bidang lainnya, seperti perdagangan, Aceh juga mempunyai beberapa nama perempuan seperti Ummi Habibah yang sukses dalam dunia perdagangan impor dan ekspor antara Aceh dan Melaka pada abad ke-16.
Sejarah Aceh yang mengalami konflik berkepanjangan, menurut Syahrizal, sempat mengakibatkan peran perempuan sedikit merosot. Saat konflik, banyak perempuan lebih memilih untuk tinggal di rumah dan mengurus rumah tangga, ujarnya.
Namun, situasi itu sudah mulai berubah setelah konflik. Sekarang perempuan di Aceh mulai bangkit dan ikut serta membangun Aceh dengan berbagai cara termasuk politik, pendidikan dan pemeberdayaan wanita, kata Syahrizal.
Konferensi Internasional Diplomatic Tour on the Progress of Women Empowerment and Child Protection in Aceh diikuti 22 perwakilan negara asing dan organisasi internasional. Turut menjadi narasumber Dr. Asna Husin dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry dan moderator Martunis dari Bappeda Aceh.[](rel)