BANDA ACEH – Wakil Wali Kota Banda Aceh, Zainal Arifin, bersama sejumlah Kepala SKPK menyambut kedatangan Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R Donovan beserta istri yang berkunjung ke Dayah Terpadu Inshafuddin, Lambaro Skep, Selasa, 25 April 2017. Turut serta dalam kunjungan tersebut, Konsulat AS Medan, Juha P Salin dan tim dari The Education USA Advising Center.
Kedatangan para pejabat Amerika Serikat ini mendapat sambutan hangat dari siswa dayah bersistem boarding school tersebut.
Zainal Arifin turut memaparkan sekilas mengenai Banda Aceh yang kini telah mampu bangkit dan terus berkembang pasca musibah gempa bumi dan tsunami.
Meskipun begitu, kami menyadari masih memiliki banyak kekurangan yang perlu dibenahi pada masa-masa mendatang. Untuk itu, kami sangat berharap perhatian dari Pak Dubes untuk kemajuan Banda Aceh. Kota kami saat ini sedang giat-giatnya meningkatkan kapasitas SDM-nya, sehingga sektor pendidikan menjadi prioritas bagi kami, ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan syariat Islam sama sekali tidak menghambat Banda Aceh untuk maju dan terus berkembang, termasuk dalam hal kesetaraan gender.
Peran perempuan dalam setiap sektor pembangunan di Banda Aceh begitu kentara, bahkan terbaik di Indonesia, kata wakil wali kota yang akrab disapa Keuchik Zainal ini.
Sementara itu, Pimpinan Dayah Inshafuddin yang diwakili oleh Hasyim Daud menyampaikan, saat ini terdapat 550 siswa yang berasal dari 23 kabupaten/kota se-Aceh dan juga negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, yang menimba ilmu di tempat mereka. Jumlah siswa tersebut, tidak sebanding dengan kapasitas gedung yang tersedia.
Animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Dayah Inshafuddin semakin meningkat setiap tahunnya. Namun kami terkendala jumlah ruang belajar yang terbatas. Gedung yang ada saat ini, bantuan dari Swiss Red Cross, tidak mampu menampung lebih banyak siswa lagi. Untuk itu, kami mohon bantuan dari Kedubes Amerika, termasuk beasiswa bagi santri berprestasi, katanya.
Sementara Joseph R Donovan berterima kasih atas sambutan hangat yang diberikan para santri. Tarian dan musiknya luar biasa, kata Joseph, mengomentari Tari Ranub Lampuan yang menyambut dirinya dan rombongan saat menginjakkan kaki di halaman Dayah Inshafuddin.
Ia dan istri, mengaku baru pertama kali datang ke Aceh. Mereka begitu terkesan dengan keramah-tamahan warga dan indahnya alam Aceh. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa bagi kami.
Menurutnya, hubungan antara Amerika Serikat dengan Indonesia sudah terjalin dengan sangat baik. Beberapa waktu lalu, Wapres AS Mike Pence berkunjung ke Jakarta dan melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.
Selama di Jakarta, Wapres kami juga menyempatkan diri ke Masjid Istiqal dan bertemu juga dengan para tokoh agama yang ada di Indonesia.
Dia mengatakan Indonesia merupakan negara besar dan penuh keberagaman serta dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi tradisi/nilai luhur toleransi antar umat beragama.
“Kadang kala, ada bagian dari masyarakat dari kedua negara kita yang hendak menantang nilai luhur ini, tapi yakinlah pada akhirnya nilai luhur yang kita yakini ini yang akan menang.
Menurutnya prioritasnya sebagai Dubes adalah mendorong lebih banyak pelajar dari Indonesia untuk melanjutkan studi ke Negeri Paman Sam. Saya ingin mendorong pula para santri di sini untuk memanfatkan kesempatan yang ada untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat.
Misalkan anda sudah siap, silahkan kunjungi USA Education Aceh Center yang kantornya berada di kampus UIN Ar-Raniry. Pusat informasi ini terbuka untuk umum, dan segala informasi terkait proses pelamaran untuk melanjutkan studi ke USA diberikan secara gratis. Atau kunjungi dulu websitenya di alamat http://www.educationusa.state.gov, katanya.
Ia menyebutkan, ada pula program Youth Exchange and Study (YES) dan Youth Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) yang diminati banyak pemuda dari Indonesia.
Pada program YES, pelajar tingkat SMA akan tinggal selama satu tahun ajaran di Amerika. Mereka bersekolah dan tinggal bersama keluarga Amerika untuk belajar kultur di sana. Saat ini ada sekitar 85 pelajar Indonesia yang sedang mengikuti program ini. Sementara dengan YSEALI, anda akan bergabung dengan jaringan 18 ribu pemuda Indonesia lainnya.
Joseph mengaku telah berkunjung ke banyak pesantren di Indonesia. Ia pun kagum dengan antusiasme tinggi dan energi positif yang dimiliki para santri Indonesia.
Pesan yang akan saya bawa pulang ke Amerika adalah para pelajar di sana harus belajar dengan sangat tekun, jika tidak mereka akan kalah bersaing dengan anak-anak Indonesia pada masa mendatang, kata Joseph.[]