BANDA ACEH – Perkembangan perbankan syariah di Indonesia telah melewati usia tiga dasawarsa. Pada awal perkembangannya lebih dari tiga puluh tahun lalu, perbankan syariah seakan-akan menjadi tamu di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, secara berangsur-angsur hingga saat ini perbankan syariah di Indonesia, khususnya di Aceh mengalami perkembangan yang menggembirakan, ditandai dengan konversi Bank Aceh menjadi Bank Aceh Syariah.
Hal tersebut dikemukakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Nazaruddin A. Wahid, M.A., saat diskusi dan bedah buku Perjalanan Perbankan Syariah di Indonesia. Diskusi ini kerja sama Bank Indonesia (BI) dan lembaga CENTRIEFP, FEBI UIN Ar-Raniry, di Banda Aceh, Kamis, 1 Desember 2016.
Guru besar ekonomi Islam tersebut memaparkan, tantangan dan persoalan selanjutnya yang harus disikapi perbankan adalah bagaimana mendekatkan bank syariah dengan pasar atau nasabah. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan membuka kantor atau unit bank syariah baru dan memberi edukasi peranan informasi teknologi dalam bidang perbankan.
Ia menyebut perbankan syariah harus mampu meminimalisir biaya yang diperlukan oleh nasabah untuk menjangkau bank atau agar nasabah bisa mengurangi biaya transportasi untuk mengakses jasa bank nasabah. Perlu diupayakan bagaimana cara mengurangi biaya tapak sepatu yang harus dikeluarkan oleh nasabah papar Dekan FEBI, UIN Ar-Raniry tersebut.
Perbankan juga perlu membuat inovasi produk perbankan. Menurutnya, cikal bakal dari produk syariah bersumber dari akad muamalah. Akad ini memiliki banyak jenisnya, tapi yang baru diadopsi ke dalam perbankan syariah masih sangat sedikit. Ada produk perbankan yang mengalami titik jenuh atau tidak menarik lagi bagi nasabah, maka diperlukan inovasi agar produk bank syariah bisa memikat para nasabah.
Celah lain perkembangan produk perbankan adalah dengan melihat seluruh segmen kebutuhan masyarakat seperti pada sektor pertanian hingga perdagangan internasional yang dapat diakomodir oleh akad-akad tersebut pungkasnya.
Sementara itu, Andang Setyobudi, Direktur Departemen Riset Kebanksentralan (BI) sependapat bahwa lembaga keuangan atau perbankan syaraiah di Indonesia memiliki prospek semakin baik di masa akan datang.
Jika mampu mengoptimalkan peluang, merespon kebijakan dengan tepat, serta mengatasi sejumlah tantangan, maka perbankan syariah diyakini mampu berkiprah lebih optimal terutama dalam menggerakkan perekonomian bangsa ungkap Andang Setyobudi, saat membuka acara diskusi publik tersebut.