MELETUSNYA kerusuhan antarumat beragama di Singkil bukanlah faktor kebetulan. Kejadian ini lebih karena kehabisan rasa sabar salah satu pihak.
Ini akibat berlarutnya penyelesaian soal tempat ibadah ilegal. Kenapa bisa berlarut? Sebab pihak bertanggung jawab abai. Pimpinan Pemerintah Aceh Singkil dan Pemerintah Aceh alpa. Pihak bertanggung jawab, yaitu penegak hukum dan Kesbangpol abai terhadap potensi perpecahan itu. Mereka tahu ada masalah, tapi gagal menyelesaikan lebih awal.
Gagal melokalisir masalah. Gagal menegakkan aturan sehingga kejadian ini meletus.
Kita lupakan sesaat soal ada dalang terencana di balik kasus ini. Bila pintu masuk ditutup lebih cepat, tentu mereka sulit masuk untuk memprovokasi.
Bayangkan bila kasus ini terjadi di negara “kafir”. Maka akan ada sederet pejabat dihukum atau mengundurkan diri. Cuma masalahnya ini Indonesia dan Aceh. Negeri dimana semua serba abu-abu. Para koruptor tertangkap tangan pun masih suka menyangkal.
Kasus ini sebenarnya sudah pernah dibawa ke Forkopimda tingkat propinsi beberapa tahun lalu, tapi seperti penyelesaian masalah di Aceh pada umumnya “meu apam” dan tidak pernah tuntas.
Ketika gejolak menurun, para pejabat tidur lagi. Begitu ada petir bangunlah mereka sebentar. Sudah beberapa tahun ini, pembangunan rumah ibadah ilegal sangat massif dan semua pihak tahu itu. Entah mereka biarkan? Atau pura-pura lupa?
Ajakan gubernur agar kasus ini diselesaikan dengan tuntas adalah perintah yang bagus. Tapi apakah beliau ada acuan evaluasi untuk mengukur tingkat tuntasnya? Apakah beliau mengamati kerja anak buahnya? Dalam hal ini adalah Kesbangpol Aceh dan Bupati Aceh Singkil.
Buktinya banyak seruan, ancaman bahkan imbaun beliau seperti “taple sira u krueng.” Tidak membekas dan tidak terasa. Lihat saja ancaman beliau saat Idul Fitri lalu. Apakah sudah terwujud? Apa tindakan beliau? Kasus Singkil harus dilihat sebagai kegagalan fungsi negara. Menjamin toleransi dan tegaknya aturan.
Komentar miring banyak pihak mulai merugikan Aceh dan Islam. Kasus ini mulai diarahkan kepada hal-hal negatif. Sedangkan substansi persoalan mulai kabur. Yang terlihat kini hanya pembakaran rumah ibadah. Oleh karena itu harus ada counter isu dari pemangku kepentingan agar tidak merugikan Islam dan Aceh.
Kebebasan beragama harus kita dukung. Bukankah rasul juga mengakui toleransi? Namun harus diingat dalam kasus Singkil toleransi telah disalahgunakan. Pembangunan rumah ibadah tanpa izin. Ada upaya sistematis hegemoni wilayah atas nama agama. Oleh karenanya, penyelesaian masalah ini tidak mengenyampingkan fakta-fakta yuridis dan sosial kultural.
Kita tidak berhak menghempang perpindahan penduduk. Namun jangan sampai perpindahan penduduk atau penguasa wilayah tidak murni urusan kependudukan. Upaya aneksasi atas nama apapun harus dihindari dan Singkil harus disayangi.
Singkil butuh perhatian semua pihak. Singkil tidak boleh diabaikan. Begitu juga daerah perbatasan lainnya. Kita tidak ingin kasus lain pecah di perbatasan. Kasihan perdamaian Aceh yang dicapai bersusah payah harus kembali muncul konflik gaya baru.
Kasus-kasus menyangkut keyakinan amat mudah disulut. Makanya kita berharap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Aceh Singkil menyelesaikan kasus ini dengan baik. Kita tidak boleh membiarkan sedikit pun kerusuhan ini pecah lagi.
Sudah sepatutnya Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh dan pemerintah setempat mencurahkan segala sesuatu untuk menyelesaikan ini sampai ke akar-akarnya. Pilkada sudah dekat dan tidak elok bila agama jadi bahan jualan di sana.
Kabar tak sedap tentang perilaku pimpinan pemerintahan disana harus diusut. Apa benar mereka membeli suara dengan bermain-main soal kayakinan? Bila benar seret mereka ke pengadilan agar tidak ada lagi politis busuk model begitu.
Politisi haus kekuasaan yang kemudian rela melakukan apapun demi menjadi budak kekuasaan. Kasus model Singkil hampir tak pernah dicatat dalam sejarah moderen Aceh. Oleh karenanya, butuh kemauan semua pihak untuk mencari alat penuntasan agar virus ini mati serta tidak menular dan toleransi selalu terpelihara.
Gubernur harus tegas memerintah anak buahnya agar mereka tidak banyak mendengkur. Agar masalah diselesaikan lebih awal dan virus merusak ini dimatikan sebelum berkembang dan menular. Jangan takut membuang penghalang bila ingin mencapai tujuan.[]