TERKINI
ENTERTAINMENT

Jei, Bass Tampan Jambo Ini Ternyata Perawat Gigi Lho!

LHOKSUKON - Pemuda berwajah tampan ini mulai menyukai musik sejak duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar (SD). Berbekal mendengarkan lagu dari beberapa band ternama di…

SUDIRMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.6K×

LHOKSUKON – Pemuda berwajah tampan ini mulai menyukai musik sejak duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar (SD). Berbekal mendengarkan lagu dari beberapa band ternama di Indonesia, ia belajar memahami musik. Tak puas sampai situ, ia pun belajar memainkan alat musik, khususnya gitar. Tak sia-sia, ia kini menjadi pemain bass gitar di Jambo.

Jambo merupakan nama salah satu band di Aceh bernuansa etnik modern. Mereka kerap kali tampil mengiringi penyanyi ternama Aceh, Rafly Kande.

Namanya, Muhammad Zakir, 25 tahun, asal Tanjong Minjei, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur. Namun, teman-teman memanggilnya dengan nama Jei. Sebelum menjadi pemain bass di Jambo, semasa SMA, Jei pernah membentuk band Capalitas beraliran rock.

“Saya menyukai musik beraliran rock dan pop rock. Di awal belajar, saya suka mendengarkan Jamrud, Boomerang, Dewa 19, dan Godbless. Saat kelas 1 SMA, saya membentuk band Capalitas. Di situlah saya mulai mengenal musik lebih dalam, termasuk belajar alat instrument musik,” ujarnya.

Beranjak tahun 2010, pemuda berkulit putih itu hijrah ke Banda Aceh. Sembari kuliah, ia mulai melebarkan sayap bermusiknya. Di Banda Aceh, Jei menemukan banyak teman baru di dunia musik. Ia juga sempat membentuk beberapa bankd lokal, seperti My Family, Dr. Rock Out dan Laquinta. Namun, band itu hanya berjalan sesaat dan berhenti di tengah jalan.

“Jiwa musik saya tidak diturunkan dari siapa pun, bahkan dulunya tidak ada dukungan dari orang tua. Namun, setelah saya jelaskan dan saya buktikan bahwa saya bisa, akhirnya orang tua merestui saya berkecimpung di musik. Apalagi setelah saya berkolaborasi dengan Rafly Kande, dukungan pun semakin besar dengan catatan, tidak boleh mengabaikan pendidikan,” ungkap Jei, kepada portalsatu.com, via WhatsApp, Jumat, 3 Februari 2017.

Sangat piawai dalam bermain bass gitar, siapa sangka pemuda yang kerap menggunakan kaca mata ini merupakan lulusan Keperawatan Gigi di Poltekkes Banda Aceh pada 2014 lalu. Namun, Muhammad Zakir lebih memilih bekerja di perusahaan maskapai Lion Air.

“Pekerjaan yang saya jalani saat ini memang melenceng dari jurusan saat kuliah. Tapi yang namanya cari kerja di Aceh itu kan tidak mudah, yang penting halal dan berkah, serta tidak menjadi pengangguran,” tulisnya sambil menyelipkan emoticon tawa.

Ia mencoba membagi kisahnya selama bermusik, mulai dari susah hingga senang. Kata Jei, Jambo bahkan pernah dianggap remeh salah satu pemilik cafe ternama di Banda Aceh, karena bernuansa etnik modern. 

“Saat mau tampil selalu ada dilema antara susah dan senang. Apalagi saya belum punya alat musik sendiri, sehingga ketika akan tampil harus meminjam punya teman atau sewa secara personal,” katanya.

Satu hal yang masih membekas di ingatan Jei, saat mereka menawarkan band Jambo tampil di salah satu cafe yang ada di Banda Aceh.

“Kala itu pemilik cafe meremehkan dan memandang sebelah mata, terlebih karena kami mengusung etnik modern. Tapi siapa sangka, penampilan kami malah memukau pengunjung cafe yang ada di lokasi. Antusias penonton mengubah pola pandang pemilik cafe tentang musik etnik modern. Bagi saya, musik itu hobi yang tidak bisa saya tinggalkan. Hingga saat ini musik seolah sudah merasuki jiwa saya,” ujar Jei.[]

SUDIRMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar