Jakarta – Adalah hal yang lazim terlihat di mesjid dan mushala, anak-anak disuruh salat di saf belakang. Alasannya, anak-anak yang masih belum serius dalam beribadah dapat mengganggu orang dewasa yang tengah salat. Padahal, hal demikian tidak tepat.
Abdullah bin Syaddad meriwayatkan bahwa ayahnya berkata,”Rasulullah SAW menemui kami saat hendak mengerjakan salah satu salat malam (yaitu Magrib atau Isya) sambil membawa Hasan atau Husain. Rasulullah SAW maju dan meletakkan cucunya tersebut lalu mengucapkan takbiratul-ihram dan memulai salat. Di tengah salat, beliau sujud cukup lama.
Ayahku berkata: Maka aku mengangkat kepala lalu tampaklah cucunya yang masih kecil itu sedang bermain di atas punggungnya, sedangkan ia tetap sujud. Maka aku pun sujud kembali. Setelah selesai salat, para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, engkau sujud terlalu lama di tengah-tengah salat tadi sehingga kami mengira telah terjadi sesuatu atau engkau sedang menerima wahyu.
Rasulullah SAW bersabda: Semua dugaan kalian tidaklah terjadi. Akan tetapi cucuku ini sedang naik ke belakangku seperti sedang menunggang kendaraan. Aku tidak ingin menyudahinya sampai dia benar-benar berhenti sendiri. (HR. Nasa'i no. 1141)
Dari kisah tersebut, ada beberapa ajaran yang dapat diambil:
1. Nabi membawa anak kecil dalam salat. Nabi membiarkan anak kecil bermain di dalam salat berjamaah sampai anak itu memanjat punggung beliau.