KEMARIN Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin meresmikan poliklinik eksekutif untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien. Sesuai namanya, poliklinik ini khusus disediakan untuk orang-orang berduit. Kelebihannya, pasien bisa memilih dokter spesialis sesuka hati.
Poliklinik ini dilengkapi dengan berbagai peralatan medis. Ianya juga dilengkapi dengan penunjang maupun fasilitas lain yang dikelola oleh tenaga para medis. Tentunya, pasien yang berada di sini bakal dilayani secara ekstra. Jika pelayanan rumah sakit biasanya berlangsung 9 jam kini menjadi 12 jam per hari.
Adanya poliklinik ini tentunya membuat masyarakat lega. Apalagi saat ini banyak sekali ditemukan keluhan lamanya pasien antri untuk berobat. Termasuk pasien yang bakal dioperasi. Terkadang para pasien harus antri hingga berbulan-bulan. Bagi yang beruntung, pasien bakal dilayani dalam waktu sepekan.
Kehadiran poliklinik ini juga disebut-sebut agar masyarakat Aceh tidak berobat ke luar negeri. Alasannya biaya berobat ke luar negeri mahal di ongkos. Sementara pengobatannya belum tentu selesai saat kembali ke kampung halaman.
Program yang digagas oleh rumah sakit plat merah ini tentu saja berdampak positif. Namun perlu diingat bahwa Aceh telah menyediakan asuransi kesehatan gratis kepada masyarakatnya. Artinya, sekian miliar uang APBA sudah digelontorkan oleh pemerintah untuk warga Aceh berobat di rumah sakit. Jika dulunya disebut Jaminan Kesehatan Aceh, program ini kemudian dileburkan dalam asuransi kesehatan nasional di bawah kendali BPJS Kesehatan.
Kehadiran poliklinik ini tentu saja diharapkan tidak membuat para perawat atau dokter mengurangi pelayanannya kepada pasien biasa. Apalagi jika sampai membuat manajemen rumah sakit pemerintah tersebut mengabaikan masyarakat miskin. Jika ini terjadi, maka sudah sepantasnya akreditasi rumah sakit tersebut dipertanyakan.
Jangan sampai ada anak kandung atau anak tiri di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin. Tenaga medis harus melayani semua pasien yang masuk ke sana. Termasuk tidak melihat dia miskin atau kaya. Jangan sampai dokter hanya memeriksa si pengantong asuransi kesehatan nasional sehari hanya sekali. Sementara untuk pasien Poliklinik Eksekutif memeriksanya tiap jam sekali.
Kita patut mengapresiasi program peningkatan pelayanan rumah sakit terbesar di Aceh tersebut. Namun kita tidak mentolerir jika rumah sakit ini sampai mengabaikan pasien mereka, karena publik Aceh telah membayar rumah sakit ini melalui APBA.[]