Jalan Santai Warnai Peringatan 44 Tahun SOS di Banda Aceh
BANDA ACEH - SOS Childrens Villages Indonesia-Banda Aceh memperingati 44 tahun SOS dengan melakukan jalan santai. Seratusan lebih peserta meramaikan acara ini, Minggu, 4 September…
BANDA ACEH – SOS Childrens Villages Indonesia-Banda Aceh memperingati 44 tahun SOS dengan melakukan jalan santai. Seratusan lebih peserta meramaikan acara ini, Minggu, 4 September 2016.
Sekretaris sekaligus Sponsorship SOS Children's Villages Banda Aceh Lia J. Ilham mengatakan, 140 anggota SOS Banda Aceh berpartisipasi dalam acara ini.
“Jalan santai ini sudah tiap tahun kami buat untuk perayaan SOS Day. Ini tradisi di SOS Banda Aceh,” katanya kepada portalsatu.com.
Rute yang ditempuh mengambil start dari SOS Villages di Lampeuneurut menuju Batoh, melewati Neusu dan finish di Taman Sari Kota Banda Aceh. Acara ini juga diwarnai dengan pembagian doorprize untuk para peserta.
Acara ini digelar serentak di seluruh kota yang terdapat SOS yaitu di Aceh, Flores, Bali, Bandung dan Medan. Selain di Banda Aceh, SOS Villages Aceh juga terdapat di Meulaboh, Aceh Barat.
“SOS masuk ke Aceh sejak tahun 2005 silam, awalnya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada akhir 2005 baru untuk pengasuhan yang dikhususkan bagi anak-anak korban tsunami, tapi sekarang kami juga mengasuh anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga,” kata Lia.
SOS Villages Banda Aceh sendiri saat ini memiliki sekitar 120 anak asuh dengan rentang usia dari empat hingga 20 tahun. Selain itu ada juga yang tinggal di luar village untuk program penguatan keluarga sekitar 300 anak lebih.
Berbeda dengan pola rumah asuh pada umumnya, SOS menerapkan sistem ibu asuh. Setiap ibu asuh menempati sebuah rumah di kompleks SOS Villages bersama beberapa anak. Mereka tinggal layaknya sebuah keluarga sehingga akan membuat anak merasa lebih nyaman.
Hal ini sesuai dengan komitmen SOS yang ingin memberikan keluarga pengganti bagi anak yang telah kehilangan dan beresiko kehilangan pengasuhan keluarga. SOS akan membantu anak membentuk masa depannya sendiri dan memberi kesempatan mereka untuk berkembang di masyarakat.
Mengutip keterangan di situs resmi SOS, organisasi ini merupakan organisasi sosial nirlaba non-pemerintah yang aktif dalam mendukung hak-hak anak dan berkomitmen memberikan anak-anak yang telah atau beresiko kehilangan pengasuhan orang tua kebutuhan utama mereka, yaitu keluarga dan rumah yang penuh kasih sayang.
SOS Childrens Villages didirikan oleh Hermann Gmeiner, seorang mahasiswa kedokteran yang tergerak hatinya ketika melihat begitu banyak anak terlantar dan kehilangan hak pengasuhan mereka dikarenakan Perang Dunia ke-2 (PD II).
Kerusakan yang disebabkan PD II menuntun langkahnya untuk menjadi seorang pekerja sosial bagi anak setelah perang. Pada saat itulah dia meyakini bahwa pengasuhan akan efektif bagi anak bila mereka tumbuh tidak hanya dalam kasih sayang keluarga, namun juga dalam perlindungan sebuah rumah dengan komunitas sekitarnya sebagai tempat bersosialisasi. Hal inilah yang kemudian mendasari terbentuknya konsep pengasuhan anak SOS Children's Villages.[](ihn)