Setiap bahasa sebenarnya telah mempunyai kosakata yang cukup untuk keperluan kegiatan sosial dan budaya masyarakat pemilik bahasa itu. Namun, kalau pemilik suatu bahasa ingin melangkah keluar dari masyarakat sosial dan budayanya, lalu mengadakan kontak dengan masyarakat sosial dan budaya lain, dapat dipastikan bahwa kosakata bahasanya tidak mencukupi lagi karena budaya lain yang dimasuki olehnya memiliki corak atau kegiatan yang berbeda.
Hal itu pula yang dialami oleh bahasa Indonesia. Bahasa dalam keluarga Melayu Polinesia ini meminjam istilah dari bahasa lain. Yang dimaksud dengan istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas pada bidang tertentu.
Sebut saja misalnya gadget, fotokopi, efektif, dan efisien. Kata-kata ini diserap dari bahasa asing, yaitu bahasa Inggris. Namun, tahukah Anda bahwa istilah-istilah asing itu sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia dan memang merupakan kosakata asli bahasa Indonesia, bukan kata serapan.
Istilah-istilah asli bahasa Indonesia ini tentu saja muncul setelah lebih dulu hadir kosakata serapan dari bahasa asing.
Gawai, misalnya, ini kosakata asli bahasa Indonesia untuk kata gadget, selain juga berarti kerja atau pekerja. Lantas, bagaimana dengan gejet yang sering dipakai sekarang. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk yang salah karena secara kaidah penyerapan, tak ada aturan yang menyebutkan bahwa gadget penyesuaian ejaannya dalam bahasa Indonesia adalah gejet.
Artinya, hanya ada dua alternatif pemakaian dalam bahasa Indonesia, yaitu gadget atau gawai. Kalaupun ingin menggunakan gadget, dalam penulisannya harus ditulis dengan memiringkannya karena merupakan istilah asing.
Efektif, efisien, dan snack lebih sering digunakan dan dikenal oleh masyarakat luas. Namun, kata sangkil, mangkus, dan kudapan tak begitu dikenal, padahal ketiga kata ini adalah kosakata asli untuk kata serapan efektif, efisien, dan snack.
Bukan hanya itu, ada banyak istilah asli milik bahasa Indonesia, tetapi jarang atau mungkin tak dikenal oleh khalayak. Berikut ini saya tampilkan istilah asli bahasa Indonesia yang jarang dipakai, sedangkan yang sering digunakan saya sertakan di dalam kurung.
atak (layout), taklimat (briefing), jajaran (slagorde), pumpunan (fokus), nirkarat (stainless), buram (draft), kenyal (elastis), amatan (observasi), jasaboga (katering), umpan tekak (appettizer), pranata (institusi), lindung lapis (double cover), galat (error), lengkapan (aksesori), pramusiwi (baby sister), laku lajak (over acting), pukul kilas (back hand), penyelia (supervisor), blabar (outline), karas (copy).
Istilah-istilah ini telah lama diciptakan oleh para ahli bahasa kita, lalu dibukukan. Sayangnya, banyak yang tersimpan dalam lemari perpustakaan atau di lemari bidang peristilahan. Jarang yang bisa keluar dan beredar dalam masyarakat umum sebagai bagian dari kosakata umum bahasa Indonesia.[]