TERKINI
EKBIS

Ini Progres Keuangan Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota

BANDA ACEH – Presiden Jokowi menegaskan, pemerintah pusat akan memberikan saksi untuk kepala daerah yang realisasi anggaran belanja daerahnya masih rendah. “(Sanksi) itu yang akan…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 995×

BANDA ACEH – Presiden Jokowi menegaskan, pemerintah pusat akan memberikan saksi untuk kepala daerah yang realisasi anggaran belanja daerahnya masih rendah. “(Sanksi) itu yang akan disiapkan. Karena sampai hari ini saya lihat kemarin di rekening masih ada Rp220 triliun yang berada di rekening-rekening, baik di BPD (Bank Pembangunan Daerah) maupun di bank-bank lain,” kata Jokowi, 13 Agustus 2017.

Jokowi menyebutkan, sistem perekonomian di suatu daerah akan terganggu jika masih minim realisasi keuangan. “Uang ini ditunggu rakyat, ditunggu realisasinya. Kalau uang itu bisa beredar di pasar, bisa beredar di daerah, itu akan sangat membantu sekali pertumbuhan ekonomi,” katanya. (Baca: Serapan APBD Rendah Jokowi Ancam Sanksi Kepala Daerah)

Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Hadi Prabowo mengatakan, sanksi untuk kepala daerah tersebut akan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) yang sedang disusun. “Kami sedang menyiapkan PP-nya. PP ini salah satunya mengatur pemberian sanksi terhadap kepala daerah yang tidak maksimal dalam mengatur serapan anggaran,” ujar Hadi.

Plt. Direktur Jenderal Keuangan Daerah Kemendagri Syarifudin tidak menampik jika hingga Agustus ini progres realisasi anggaran daerah masih banyak di bawah 50 persen. Ia mengatakan, hal ini kerap terjadi dan berulang setiap tahunnya. Syarifuddin menyebutkan, pihaknya sudah meminta pemerintah daerah untuk mengantisipasi agar kejadian seperti ini tidak terulang terus menerus. (Baca: Realisasi Anggaran Rendah, Kemendagri Akan Sanksi Kepala Daerah)

Bagaimana realisasi keuangan di Aceh?

Berdasarkan data Tim Evaluasi dan Pengawasan Realisasi Anggaran (TEPRA) dikutip portalsatu.com dari monev.lkpp.go.id, Selasa, 15 Agustus 2017, dari 23 kabupaten/kota di Aceh yang data progres keuangannya dipublikasikan, Bireuen paling tinggi yaitu lebih 56 persen dan Aceh Tenggara 51 persen lebih. Sedangkan kabupaten/kota lainnya termasuk Pemerintah Aceh masih di bawah 50 persen. Progres keuangan Pemerintah Aceh sampai Juli 2017 baru 33 persen. Data terbaru dilansir p2k-apba.acehprov.go.id, sampai 14 Agustus 2017, realisasi keuangan 36,6 persen, dan fisik 40 persen.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh Jamaluddin dihubungi lewat telepon seluler, Selasa, sekitar pukul 14.28 WIB, mengaku sedang mengikuti rapat. “Saya sedang rapat di Bandung, nanti telepon lagi,” katanya.

Ditanya melalui pesan singkat apakah benar realisasi keuangan Pemerintah Aceh sampai Juli lalu baru 33 persen, Jamaluddin menulis, “Realisasinya bisa dicek di p2k setiap hari update”. Namun, ia tidak menjawab ketika ditanya apa upaya Pemerintah Aceh untuk memacu realisasi keuangan mulai Agustus ini.

Menurut data TEPRA itu, dari pagu anggaran Aceh Utara tahun ini Rp2,714 triliun lebih, progres keuangan sampai Juli 2017 baru 30,45 persen dan fisik 38,92 persen. Sementara menurut Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Kabupaten (BPKK) Aceh Utara Muhammad Nasir, “Realisasi pendapatan 49,76 (persen), belanja 39,78 (persen)”. (Baca: Realisasi Keuangan Rendah, Dewan Akan Panggil Eksekutif)

Berikut progres keuangan dan fisik sampai Juli 2017 menurut data TEPRA dikutip dari monev.lkpp.go.id:

Provinsi Aceh, anggaran Rp14,733 T

Progres/kemajuan realisasi Keuangan (PK) 33 persen dari target 45 persen

Progres Fisik (PF) 36 persen dari target 40 persen

Banda Aceh Rp1,248 T

PK 14,33 persen (?) dari target 32,90 persen

PF 40,07 persen dari target 52 persen

Sabang Rp670,130 M

PK 32,51 persen dari target 60,64 persen

PF 48,33 persen dari target 58,33 persen

Lhokseumawe Rp905,824 M

PK 43,59 persen dari target 75,06 persen

PF 42,59 persen dari target 75,06 persen

Langsa Rp1,025 T

(Tidak dipublikasi data PK dan PF)

Subulussalam

(Tidak dipublikasi jumlah anggaran, data PK dan PF)

Aceh Timur Rp1,887 T

PK 46,05 persen dari target 49,35 persen

PF 46,05 persen dari target 49,35 persen

Aceh Barat Rp1,408 T

PK 31,98 persen dari target 28 persen

PF 32,21 persen dari target 28 persen

Aceh Utara Rp2,714 T

PK 30,45 persen dari target 38,16 persen

PF 38,92 persen dari target 45 persen

Aceh Selatan Rp1,471 T

PK 35,40 persen (data PK sampai Juni)

PF (tidak ada data)

Aceh Tengah Rp1,497 T

PK  40,80 persen dari target 40 persen

PF 45,50 persen dari target 45 persen

Bireuen Rp2,051 T

PK 56,25 persen dari target 50,50 persen

PF 64,25 persen dari target 56,50 persen

Aceh Besar Rp1,912 T

PK 41,10 persen dari target 35 persen

PF 42,00 persen dari target 40 persen

Aceh Barat Daya Rp1,049 T

PK 38,26 persen dari target 37,16 persen

PF 41 persen dari target 40 persen

Aceh Jaya Rp1,009 T

PK 40,10 persen dari target 56,37 persen

PF 49,67 persen dari target 57,98 persen

Nagan Raya Rp1,342 T

PK 40,46 persen dari target 39 persen

PF 28,16 persen dari target 28 persen

Aceh Tenggara Rp1,432 T

PK 51,57 persen

PF 86 persen (?)

Bener Meriah Rp1,093 T

PK 43.97 persen dari target 50 persen

PF 42.16 persen (Juni)

Aceh Tamiang Rp1,276 T

PK 35,65 persen

PF (tidak ada data)

Aceh Singkil Rp898,389 M

(Tidak ada data PK dan PF)

Gayo Lues Rp974,212 M

(Tidak ada data PK dan PF)

Simeulue Rp1,011 T

PK  36,93 persen dari target 58,33 persen

PF 36,93 persen dari target 58,33 persen

Pidie

(Tidak ada jumlah anggaran dan data PK)

PF 27 persen

Pidie Jaya Rp979,921 M

PK 38,81 persen (Juni)

PF 36,58 persen (Juni).[] (idg)

Lihat juga:

Separuh 2017, Berapa Persen Realisasi Keuangan Banda Aceh?

Ketika Realisasi Keuangan Aceh ‘Loyo’

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar