BANDA ACEH – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Otsus (GMPO) melakukan unjuk rasa di depan gedung DPRA menuntut kejelasan dana otsus. Saat itu, peserta aksi detemui oleh anggota DPRA, Abdurahman dan Mariati, Selasa, 6 Desember 2016.
Meskipun menerima aspirasi massa, tetapi anggota dewan menolak menandatangi tuntutan mahasiswa tersebut. Akibatnya sempat terjadi ketegangan antara mahasiswa dan anggota parlemen.
Abdurahman menjelaskan dirinya maupun Mariati tak bisa menandatangani tuntutan tersebut secara sepihak. Pasalnya, semua hal harus didiskusikan dalam rapat.
“Ketua DPRA pun tak bisa secara serta merta menandatangani tuntutan ini, karena ini bersifat kolektif kolegial,” kata Abdurahman.
Tak terima dengan alasan tersebut, mahasiswa terus mendesak anggota parlemen Aceh untuk menandatangani tuntutan mereka. Suasana menjadi sedikit tegang.
“Tidak ada yang dirugikan dalam tuntutan itu,” ucap Akmal, salah seorang peserta aksi.
Tak lama kemudia Abdurahman dan Mariati meninggalkan peserta aksi dengan membawa tuntutan mereka. Sebelum melangkah masuk, Abdurahman mengatakan dirinya akan menandatangani tuntutan itu asal dalam bentuk penerimaan.
“Kalau tanda tangan sebagai penerima, saya setuju. Tapi kalau menyetujui tuntutan ini, tentu harus dibahas dulu dalam rapat,” kata dia.[]