SIGLI – Mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Suryadi Lancok, mengaku kecewa kepada Pemerintah Aceh yang menggelar peringatan 10 tahun MoU Helsinki tidak sesuai fakta sejarah. Dia juga kecewa dengan UUPA yang belum mengakomodir seluruh implementasi MoU Helsinki.
“Kami sangat kecewa pada panitia. Sejumlah kewenangan Aceh belum ada kejelasan hingga saat ini, jadi untuk apa buat peringatan meriah yang menghabiskan uang rakyat saja,” kata Suryadi.
Dia mengatakan kekecewaan serupa juga dirasakan oleh mantan kombatan alumni Kamp Tanjura Libya. “Kita tak butuh perayaan, kita butuh implementasi UUPA karena perdamaian bukan sekedar seremonial,” kata Suryadi.
Suryadi juga menyesalkan perlakuan pemerintah terhadap Wali Nanggroe. Menurutnya lembaga tersebut seperti tidak ada harganya bagi pelaksana kegiatan. Apalagi Lembaga Wali Nanggroe ditempatkan di bawah kendali Sekretariat Daerah.
Padahal jika merujuk pada MoU, kata dia, kedudukan Wali sebagai tokoh yang diberi tempat khusus beserta kewenangannya di Aceh. “Saya berharap ke depan janganlah kegiatan seperti itu dilaksanakan jika jasa orang tidak dihargai,” katanya.[]
Laporan: Zamah Sari