IDI RAYEK – Suatu ketika, Rasullullah bersabda pada sahabat. “Wahai, sahabat, ketahuilah kalian setelah aku tiada, Allah akan mencabut dari umatku dari sekalian daripadanya. Lalu sahabat bertaya, apa itu ya Rasul?” Dan Rasul menjawab salah satu di antaranya adalah kasih sayang antara manusia.
Cerita di atas merupakan penggalan dari isi khutbah salat Idul Fitri yang disampaikan Teungku Aqli di Masjid Baitulmukarramah Gampông Pucoek Alue Sa, Simpang Ulim, Aceh Timur, Minggu, 25 Juni 2017.
“Makajih jinoe takalon aneuk poh ayah, ayah poh aneuk, dan sebagainya (makanya sekarang kita lihat anak pukul ayah, ayah pukul anak, dan sebagainya),” kata Teungku Aqli.
Lebih lanjut pimpinan pesantren Raudhatul Muta'alimin, Kecamatan Pante Bidari itu menjelaskan, pasca wafatnya Rasulullah, selain dicabutnya oleh Allah rasa kasih sayang antar sesama, Allah juga mencabut keberkatan rizki, keadilan pada pemimpin, sabar pada si miskin, dan marwah pada orang terhormat.
Selain itu Allah juga memerintahkan pada malaikat Jibril untuk menarik Alquran dan iman pada manusia.
“Alquran sudah tidak lagi jadi pedoman, itu artinya dicabut Alquran. Begitupun dengan iman, umat muslim dewasa ini sudah banyak yang tidak menghiraukan keselamatan imannya demi mendapat sesuatu hal yang diinginkan oleh nafsu mereka,” kata Teungku Aqli yang akrab disapa Abi Pante Rambong itu.
Wajib Fitrah
Selain itu, dalam kesempatan khutbah singkat Idul Fitri itu, Teungku Aqli juga menyentil persoalan wajib fitrah dalam Islam. Menurutnya, seseorang muslim diwajibkan membayar fitrah ketika ia sudah melewati masa hidup pada bulan Ramadan dan memasuki Syawal. Begitupun dengan seorang bayi yang baru lahir di ujung Ramadhan, juga diwajibkan membayar fitrah.