BANDA ACEH – Pohon geulumpang (Aceh) atau sterculia foetida (latin) yang berada di halaman depan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh ditebang oleh pihak kontraktor yang melaksanakan proyek perluasan masjid tersebut. Hal ini banyak menuai kecaman dari masyarakat luas yang dinilai telah menghilangkan bukti sejarah.
Namun Kepala Bidang Program Perencanaan dan Evaluasi, Dinas Cipta Karya Aceh, Ir. Khalidin, mengatakan penebangan pohon tersebut memang harus dilakukan. Pasalnya pohon sterculia foetida ini berada dalam area pengerjaan proyek.
Khalidin mengatakan sebelum proyek dilaksanakan, keberlangsungan tanaman di halaman MRB sudah dibicarakan. Jika proyek ini selesai, kawasan tersebut akan tetap dijaga dan dilakukan penghijauan. “Ini sudah pernah kita sampaikan (bicarakan),” katanya melalui sambungan telepon kepada portalsatu.com, Minggu, 22 November 2015.
Dia mengatakan ada juga beberapa tanaman lain yang masuk kawasan proyek yang diselamatkan atau dipindahkan. Pohon-pohon tersebut nantinya akan disemai kembali seperti pohon kurma, rumput, dan tanaman hias.
Sedangkan untuk monumen Kohler, gapura dan pintu gerbang di sisi utara, selatan dan yang di tengah halaman, akan tetap dipertahankan. Pasalnya merupakan bagunan heritage yang usiannya sudah 50 tahun.
“Monumen Kohler telah dicatat titik koordinatnya. Setelah proyek ini selesai, diletakkan kembali lagi pada tempat semula. Tapi untuk sementara, kalau pengerjaan proyek sampai ke monumen itu, kita geser dulu. Kalau sudah selesai kita taruh lagi di tempat semula,” katanya.
Dia mengatakan semua bukti sejarah yang ada di halaman MRB akan tetap diamankan dan dijaga. Ini dilakukan supaya tetap utuh dan tetap berada pada posisinya.