DALAM sebuah perjuangan kalah dan menang hanyalah persepsi dari sebuah yang di raih dari hasil akhir. Seseorang yang memiliki nilai-nilai sportivitas dan etika hidup di dalam jiwa, maka sang jiwa memiliki kekuatan untuk menerima sebuah hasil akhir dalam dua pilihan kalah atau menang dengan penuh tanggung jawab dan senyum indah serta tulus.
Namun saat kita tidak ikhlas menerima kekalahan dari sebuah pertarungan yang terbuka dan terukur dengan norma dan aturan, maka kita sedang menciptakan monster amarah yang membuat diri yang di kalahkan oleh diri kita sendiri. Ikhlas dan bersabar merupakan jalan untuk meraih kemenangan. Begitu juga tidak ikhlas dan penuh kebencian merupakan jalan selanjutnya untuk menuju kekalahan.
Satu hal yang harus kita perhatikan dengan qalbu kita, dalam fragmentasi kehidupan tidak selamanya kita menjadi sang pemenang. Kita juga tidak selalu unggul di segala aspek kehidupan, setiap pelik ritme kehidupan yang kita jalani dalam kehidupan sehari-hari termasuk juga dalam memenangkan realita atas idealita termasuk pilkada yang telah kita jalani bersama. Kita tidak boleh memaksakan mimpi, sebab tidak semua yang kita impikan menjadi kenyataan dan sebuah realita juga tidak semua yang kita inginkan kita dapatkan.
Suatu waktu, dunia kekalahan harus berpihak pada kita. Dan tentunya sudah pasti sangat berat untuk bisa kita menerimanya. Hal ini di sebabkan bersamaan dengan itu muncul perasaan rendah, hina, dan tidak berdaya. Namun itulah realita yang harus kita terima, sepenuhnya.
Terdapat satu hal yang kita lupa. Bukan karena lemah, tidak berjuang dengan dengan usaha dan doa sehingga kita kalah. Melainkan, karena memang itulah jalan yang harus kita lalui dalam roda kehidupan ini, tanpa bisa memilih dan berbalik arah. Itu menjadi bagian dari detail takdir Allah SWT yang harus kita lalui dalam rangkaian panjang jalan kehidupan ini.