IMUM Jon, seorang ekskombatan GAM yang menjadi penyanyi berhasil di Aceh. Kemunculan dan karyanya patut diberikan penghargaan oleh otoritas seni atau dinas kebudayaan.
Kehadirannya membuktikan bahwa ekskombatan itu bukan hanya bisa jadi kontraktor atau apalah namanya itu yang berurusan dengan sikap pragmatis kaum kapitalis. Namun ada juga di antara mereka yang memiliki bakat besar bidang seni lagu, seperti Imum Jon ini.
Lagu-lagu yang dikarang dan dinyanyikannya pun kreatif. Walaupun ada lagu itu yang dipengaruhi oleh karya orang lain [sekira dua persen] namun bukan bersifat jiplak seperti yang umum dibuat penyanyiyang kurang pengetahuan–di Aceh.
Lagu bertajuk “Pusaka Nanggroe” (Sion Bendera) karyanya adalah lagu yang fenomenal. Dalam pengaruhnya bagi semangat orang Aceh, lagu ini tidak berbanding dengan lagu manapun yang diciptakan sezaman, selain hentakan gaya baru album Nyawoung.
Hanya revolusi album Nyawoung yang sebanding dengan Pusaka Nanggroe karya Imum Jon, tidak KanDe dan Rafly-nya atau siapa seniman serupa lain yang juga memiliki kelebihan namun tidak sekuat ini.
Hal itu ditambah perkuat oleh kenyataan bahwa Imum Jon mengarang sendiri syair-syair lagunya yang memenuhi syarat persajakan Aceh. Gaya ini, lebih seratus tahun lalu pernah dilakukan oleh Teungku Chik Pante Kulu, dalam Hikayat Prang Sabi.