TUJUH pria melompat dari kursi warung Seuramoe Kupi di sudut Lapangan Hiraq Lhokseumawe, sedetik usai terdengar letusan senjata, Sabtu, 12 November 2016, sekitar pukul 10.30 WIB. Suara salak senjata tak henti seakan saling berlomba dengan tujuh pria tadi yang melesat bak kelinci ke tepi jalan di sudut Lapangan Hiraq.
Rentetan letusan senjata semakin memanas di tengah dingin dan kakunya suasana kawasan pusat Lhokseumawe yang basah kuyub diguyur hujan sejak pagi.
Sebuah mobil Innova melaju nyaris secepat kilat dari Jalan T. Nyak Adam Kamil menusuk Jalan Merdeka. Mobil itu ternyata mengejar sebuah mobil Innova lainnya sambil melepaskan tembakan. Aksi bak film action di layar kaca itu terus berlanjut. Sebuah mobil sedan ikut muncul ke Jalan Merdeka meramaikan aksi yang membuat jantung warga berdetak kencang.
Tembak menembak yang dilepaskan dari senapan milik para penumpang tiga mobil berlari kancang di bawah guyuran hujan seketika membuat Jalan Merdeka depan Lapangan Hiraq menjadi “medan tempur”.
Sepuluh menit kemudian suasana pun senyap, dingin dan kaku seperti batu. Tujuh pria pecandu kopi kembali ke warung Seuramoe Kopi setelah menonton adegan kontak tembak simulasi sistem pengamanan (sispam) kota sebagai bagian dari pengamanan pilkada 2017.
Sispam kota tersebut melibatkan personel Polres Lhokseumawe dan Satuan Brimob Polda Aceh Detasemen-B yang bermarkas di Jeulikat, Blang Mangat, Lhokseumawe.
Lima menit berikutnya, rentetan letusan senjata kembali membahana. Tiga mobil tadi tampak meluncur ke Jalan Merdeka sambil melepaskan tembakan. Tujuh pria pelanggan warung Seuramoe Kupi sekonyong-konyong berlari ke sudut Lapangan Hiraq menyaksikan kontak senjata itu yang kali ini lebih menegangkan.
Tak lama setelah itu, penumpang salah satu mobil Innova yang berperan sebagai bandit bersenjata terkapar ke aspal Jalan Merdeka. Sejurus kemudian terdengar sirine mobil ambulans. Petugas medis lantas mengevakuasi tersangka yang tewas akibat pertempuran itu.
Suasana kembali senyap. Tujuh pria tadi balik kanan ke warung Seuramoe Kupi. Sambil menyeruput kopi yang tersisa di dasar gelas, sebagian dari pria itu bercakap-cakap sambil melepas canda. Mereka membahas aksi kontak tembak yang baru saja disaksikan secara langsung.
Mulanya, pengelola warung kopi melempar pertanyaan sekaligus pernyataan, Peu ka lom nyan, bang? Ka lagee masa konflik lom! (ada apa lagi itu, bang? Sudah seperti masa konflik Aceh dulu!)
Masa konflik mantong hana lagee nyan, hana prang di pusat kota, tapi lam uteuen, lam glee Tuhan, juoh ngon kota (masa konflik saja tidak seperti itu, tidak ada perang di pusat kota, tapi dalam hutan belantara, jauh dengan pusat kota), timpal seorang pelanggan warung itu. Yang satnyoe mungken lagee di Texas, ujar pria itu sarat canda.