IDI RAYEK- Turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi sebuah harapan besar masyarakat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Pasalnya selama ini melonjaknya harga BBM membuat pengeluaran masyarakat turut meningkat.
Senin dini hari 4 Januari 2016 pemerintah Republik Indonesia menyatakan kepada publik harga BBM resmi diturunkan, dengan rincian jenis premium yang semula dijual Rp. 7.300 per liter menjadi 6.950 per liternya, sedangkan solar bersubsidi dari Rp. 6.700 menjadi Rp. 5.650 per liternya.
Informasi resmi itu membuka nafas lega untuk seluruh masyarakat Aceh dan umumnya seluruh Indonesia. Namun turunnya harga BBM tersebut belum juga terlihat dampak pengaruh yang signifikan terhadap masyarakat bawah. Seperti halnya yang dirasakan oleh Nur Ummi, pedagang ranub (sirih) di kaki lima kota Idi, saat ditemui portalsatu.com, Rabu, 6 Desember 2016.
Menyoe masalah minyeuk itron sama chit ikamoe hudep lage nyoe, hana yang tarasa beda, walau jitron pih 300 Rupia, murah rot minyeuk meuhai bak saka (Bagi kami sama saja, turun dan tidak, murah bbm mahal gula, kata wanita paruh baya itu.
Menurutnya jika pemerintah ingin menurunkan harga BBM, maka sebaiknya seperti harga kebutuhan rumah tangga lainnya juga ikut diturunkan agar tercipta keseteraan ekonomi.
Memang kalau minyak itu turun pasti barang- barang lainkan turun juga, tapi yang kita rasakan tidak seperti itu, menyoe ureung kaya beutoi gerasa murah minyeuk, tapi kamoe yang lage uroe nyoe 300 Rupia peng kon mengharga chit, kata Nur Ummi.
Dia berharap kepada pemerintah untuk ke depan lebih memerhatikan masyarakat tingkat kalangan bawah, karena dia menilai masyarakat bawah saat ini masih belum mendapat kesejahteraan yang merata.
Pemerintah beu geukalon sampek trok u yub, bek geukalon u ateuh sabee, nyan sagai, katanya.[](tyb)