Di zaman sekarang yang teknologi dapat menyampaikan informasi secara langsung dari berbagai belahan dunia secara serentak, negara Indonesia, khususnya di Aceh, terlihat mulai sadar, bahwasanya ketahanan bangsa bisa terancam karenanya.
Kita lihat, bagaimana sebuah kudeta dan perang dipropagandakan secara sistematis melalui artikel, foto, dan video di jeraring sosial, telah berhasil meruntuhkan beberapa negara.
Di Indonesia Suharto jatuh, di Mesir Husni Mubarak tumbang, di Iraq Saddam Hussein hancur, di Libya Muammar Khadafi terguling, dan sebagainya.
Hanya Turki di masa Recep Tayyip Erdogan yang berhasil mengatasi perang propaganda itu. Yang melegakan, pendapatku ini ternyata sama dengan hasil penelitian antropolog KBA.
“Kisah kegagalan perebutan kekuasaan di Turki tahun 2016 dan penangkapan ribuan orang merupakan contoh kongkrit. Dalam konteks ini, operasi subversi tidak berhasil menggulingkan Erdogan,” kata antropolog Dr Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad (KBA), pada acara Pembekalan Bela Negara tentang Ancaman Nonmiliter, Kesbangpol Aceh, Rabu, 22 Maret 2017.
Pembicara tunggal di cara itu, KBA, mengupas dengan rinci tentang bagaimana pihak pihak memproduksi dan menyebarkan informasi yang kita konsumsi secara gratis dan kita sebagai korbannya.
Aku menghadiri acara tersebut atas nama PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki) untuk memenuhi undangan Badan Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik). Hanya sebagian organisasi yang diundang.
Aku tidak tahu apa kategori panitia dalam memilih organisasi peserta, namun aku suka menghadiri acara seperti ini, disebabkan aku suka segala sesuatu yang terhubung dengan pengetahuan tentang keamanan nasional.
Di acara itu, hanya beberapa orang yang kukenal. Hadirin dari berbagai organisasi berbeda ideologi tapi satu dalam wawasan nusantara. Dan sepertinya, hanya PuKAT organisasi kebudayaan yang diundang dan hanya aku aktivis kebudayaan yang hadir di sana.
Jadi, dari sudut pandangku, sebagai aktivis kebudayaan di organisasi kebudayaan antarbangsa, persoalan bela negara dari ancaman nonmiliter adalah hal yang telah kupelajari, walaupun tidak sebaik dan sedetil Bang KBA yang menjadi pembicara tadi.
Di sela pemicaraannya selama sekira satu jam yang kusimak utuh dari awal sampai akhir tersebut, KBA sempat mencontohkan kudeta militer di Turki pada 15 Juli 2016, yang digagalkan oleh rakyat.
Dalam sesi tanya jawab, aku berkali-kali ingin bertanya, tapi pemandu acara tidak mengizinkannya, karenanya, kutulis di sini disebabkan ada yang penting untuk keamanan nasional.
“Proses operasi subversi di atas dilakukan dalam jangka waktu mencapai 25-
30 tahun. Tampaknya, operasi non-militer ini memang menyasar persiapan selama
satu generasi dan menargetkan seluruh lini kehidupan masyarakat. Pengalaman
kerusuhan Mei 1998 merupakan contoh kongkrit yang tidak ingin diulangi oleh
bangsa Indonesia. Namun, operasi subversi sejak tahun tersebut hingga hari ini telah dimulai melalui infiltrasi ideologi ke dalam sistem penyelenggaran kekuasaan di Indonesia. Jika memang siklus 25-30 tahun, maka operasi subversi melalui psy war, hybrid war, dan psy op akan mengalami puncak pada tahun 2028. Artinya, tantangan dan ancaman akan wujud pada tahun-tahun 2025. -KBA.